DIVA STYLIST
#divastylist #snsd #divastylist2
Part 2
Kesibukan Taeyeon tak juga surut. Banyak sekali yang harus ia lakukan di awal tahun ini. Dia masih memiliki jadwal konser di Seoul dan tour Jepang. Ditambah dengan persiapan variety show di mana dia akan melakukan busking bersama beberapa musisi lain di Jerman dan Belanda. Latihan dengan band untuk konser, lalu busking, lalu dance. Banyak sekali yang harus ia lakukan. Sangat sulit bagi Taeyeon untuk mencari waktu untuk sekedar bertemu dengan kekasihnya. Sekalipun terkadang perempuan itu mampir ke rumah Taeyeon, tak banyak yang mereka lakukan. Karena mereka hanya bertemu saat malam telah larut, saat mereka sama-sama lelah dan berakhir hanya tidur bersama.
Selalu seperti itu, entah siapa yang bangun lebih dulu. Yang jelas, sangat jarang untuk melihat keduanya sekedar makan bersama. Terkadang hal itu membuat Taeyeon sedikit meragu dan merasa bersalah.
Berselisih adalah hal yang biasa bagi mereka. Atau membalas pesan dua hingga tiga hari setelah pesan diterima bukan hal baru bagi mereka. Mereka tidak akan bertukar kabar kecuali itu hal mendesak dan mereka memiliki waktu untuk sendiri ataupun ketika mereka merasa sangat lelah dan membutuhkan satu sama lain. Walaupun terkadang hanya sebatas melalui telepon atau video call. Ada banyak alasan bagi mereka untuk mengakhiri cerita, tapi mereka terlalu lekat satu sama lain. Mereka saling membutuhkan. Dan Taeyeon pikir akan sulit mencari orang lain seperti kekasihnya yang sangat memahaminya dan tak banyak menuntut di tengah kesibukan mereka.
Hari ini, H-1 konser Taeyeon di Seoul. Mereka tak juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu setelah weekend satu minggu yang lalu. Saat Taeyeon nekat pergi ke apartemen kekasihnya karena dia sangat lelah dan ingin menghilang. Dan itulah satu-satunya waktu dimana mereka bisa bertemu di minggu itu. Sebelum akhirnya mengulangi siklus saat mereka sama-sama sibuk.
Sudah pukul satu lebih saat Taeyeon memutuskan untuk menelepon. Dia tidak berharap perempuan itu akan mengangkatnya. Namun ia salah, perempuan itu mengangkat setelah beberapa detik berdering.
“Hi, tidur?”
“Belum,” ia mendengar suara perempuan sama lelahnya dengan dia.
“Rehearsal-mu sudah selesai?”
“Ya.”
“Beristirahatlah. Kamu harus tampil 2 jam.”
“Ya.”
Ada hening sejenak di antara mereka. Hingga suara nafas mereka yang mengambil alih keheningan malam.
“Is everything ok?”
Taeyeon menggeleng tanpa perempuan itu sadari. “Kamu akan datang besok?” Taeyeon mengalihkan topik pembicaraan itu. Dia tidak siap untuk membicarakannya. Tidak ketika dia sendiri masih menganggap pikiran itu berlebihan.
“Tentu, aku akan datang.”
“Ke backstage? Aku akan mintakan akses ke manajerku.”
Taeyeon mendengar desahan dari ujung telepon.
“Maaf, Tae. But I can’t. Not right now, ok?”
Itu yang selalu terucap dari perempuan itu. Sangat sulit bagi mereka untuk berpura-pura sejenak sebagai seorang teman atau sahabat. Jangan salah, bertemu Taeyeon di backstage adalah impian perempuan itu. Tapi tidak sekarang. Dia terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Walaupun sebetulnya sekarang sudah lebih dari satu setengah tahun mereka berkencan tanpa seorangpun yang tahu.
“Kalau begitu duduk di dekat keluargaku. Aku ingat ada beberapa kursi kosong di sana. Aku ingin melihat kamu saat aku menyapa mereka.”
“Ok,” jawab perempuan itu pasrah. Pun keluarga Taeyeon hanya tahu jika dia adalah kenalan Taeyeon. “Can we switch to video? Aku ingin melihatmu sekarang.”
Taeyeon menyetujuinya, dan begitu layar ponselnya berubah, terlihatlah dua perempuan yang saling melempar senyum dengan mata lelah yang tak bisa mereka sembunyikan.
“I miss you, Taeyeon.”
“I miss you, too,” ucapnya dengan senyuman yang tak sampai di mata. “I really wish we had plenty of time to spend together. Dan keberanian.”
Taeyeon melihat ada kesedihan yang sama di mata perempuan itu. Bodoh. Dia tidak bermaksud membuat perempuan itu merasa terbebani.
“I’m sorry.”
“Tidak… tidak.. Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa bersalah karena sepertinya aku menganggap hubungan ini salah. Maksudku…”
“Maksud kamu?”
Taeyeon merutuki ucapannya sendiri. Sesuatu yang belum siap ia utarakan tiba-tiba terselip begitu saja. Bodoh.
“Dengar, ok. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku merasa jika kita ini salah. Terutama aku. Aku selalu tidak bisa menyempatkan waktu untuk kita. Selalu sibuk. Bahkan untuk pergi di hari ulang tahunku pun aku tidak bisa. Aku merasa kalau aku hanya… memanfaatkanmu.”
“Taeyeon,” sela perempuan itu.
“It’s just too good to be true untuk sebuah hubungan,” sambung Taeyeon mengabaikan perempuan itu. “Ada banyak alasan kita bisa mengakhiri semua ini. Tidak. Ada banyak alasan untuk kamu bisa lari dari aku. Dan itu tidak salah.”
“Taeyeon!”
“Kamu selalu ada, bahkan bisa menyempatkan waktu ke konserku. Tapi aku tidak. Dari 30 hari dalam sebulan, aku hanya bisa memberimu 10 hari. Dan terkadang kurang-”
“KIM TAEYEON!” perempuan itu berteriak untuk menghentikan ucapan Taeyeon.
“Apa?”
“You’re not, ok? Kamu gak seperti itu.”
“Tunggu dulu aku belum selesai.”
“Lebih baik kamu tidur, Tae. Konsermu bukan hal yang mudah, kamu harus mempersiapkan tenagamu untuk itu. Kita akan bicara setelah konser.”
“Tidak. Aku tidak bisa fokus nanti. Tolong dengarkan aku sampai selesai.”
Perempuan itu hanya bisa mendengus dan memutar bola matanya saat Taeyeon kembali mengeluarkan isi kepalanya. Panjang sekali. Dan tidak ada kesempatan baginya untuk menghentikan Taeyeon. Semua yang Taeyeon utarakan adalah insecurity dari Taeyeon dalam hubungan mereka. Pekerjaan yang membuat mereka tak memiliki banyak waktu. Stress, bertengkar, dan hanya bertemu saat malam. Tak banyak yang mereka lakukan seperti pasangan pada umumnya. Kecuali berkencan di rumah, meminum wine dan berakhir di ranjang.
Mereka merindukan satu sama lain dan saling membutuhkan. Dan itulah cara mereka melampiaskan semuanya saat mereka memiliki waktu untuk bertemu. Namun sepertinya Taeyeon merasa itu salah, seolah dia memanfaatkan perempuan itu. Taeyeon selalu lupa dengan hal kecil yang mereka lakukan selain itu.
“Sudah selesai?”
“Belum, tunggu dulu aku ingin bertanya,” ucap Taeyeon. “Kamu masih ingin bertahan denganku?”
“Mendengarmu? Masih ada berapa banyak di kepalamu?”
“Bukan itu. Kita. Kamu masih ingin kita berlanjut?”
“Kamu tidak?”
“Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Boo!”
“Kenapa tidak?” Taeyeon mendesis untuk tidak berteriak ke perempuan itu begitu ia mendengar pertanyaan yang dilempar kembali padanya.
“Dengar, Taeyeon. Yang kamu sebutkan tadi bukan murni karena keinginan kita atau salah kita. Itu karena pekerjaan kita. Kita tidak bisa menuntut banyak tentang itu, karena kita memiliki kontrak dan tidak bisa diganggu seenaknya. Aku harap kita sama-sama memahaminya,” terangnya.
“Aku sama sekali tidak melihat kamu memanfaatkanku. Kamu selalu menyempatkan waktu untuk meneleponku. Atau datang ke rumahku. Atau sekedar mengirim makanan ke tempat kerjaku. And that’s enough for me. More than enough. Aku memahami jadwal kita, pekerjaan kita, dan norma di sini. Kalau kamu bertanya apakah aku pernah muak? Ya aku pernah, Taeyeon. Tapi entahlah, aku pikir saat kita bisa bertemu semua kerinduan terbayar di sana. Kita sama-sama merelakan waktu istirahat, tapi itu impaskan? Aku tidak pernah merasa ada yang kurang, kita selalu berusaha memanfaatkan waktu itu dengan baik.”
“Jangan pernah berpikir lagi seperti itu. Dan cepat tidur! Awas konsermu besok gagal, jangan buat aku menyia-nyiakan waktuku untuk ikut war tiketmu.”
“War? Kamu membelinya? Bukannya aku sudah memberimu satu tiket?”
“Aku ingin melihat segila apa rumor itu. Dan memang benar, fans-mu sangat gila, Taeyeon. Hanya 1 detik dan tiket konsermu habis. Jadi jangan kecewakan mereka dan cepat tidur sekarang!”
“Ok. Satu pertanyaan lagi?”
Perempuan itu menghela napas, “baiklah.”
“Bagaimana jika kita bekerja bersama? Maksudku kamu bekerja denganku.”
“Jadi stylist-mu?” Taeyeon mengangguk antusias. “Kamu yakin? Akan mendengarkanku? Omelanku?”
“Seperti yang kamu bilang tadi, harus ada yang direlakan, tapi itu impas dengan pengorbanan.”
“Maksud kamu?!”
“Aku akan menguatkan telinga, mendengar omelanmu supaya kita punya banyak waktu bersama. Bagaimana?”
“Yah! Aku tak seburuk itu. Kamu saja yang bebal. Sekarang tidur Taeyeon, aku mohon. Jangan kecewakan fans-mu.”
Taeyeon masih tak puas, “tapi-”
“Tidur, Taeyeon. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Dan kalau konsermu gagal karena kamu mengantuk atau lupa lirik aku akan menyebarkan foto tidurmu dengan mulut terbuka.”
“Yah!”
“Tidur sekarang!”
“Yes Mom! Aku akan tidur sekarang. Jangan lupa untuk duduk di dekat keluargaku. Bye boo. Sampai jumpa besok.”
Dari sudut itu, dia berdiri dengan bangga saat melihat Taeyeon dengan sukses menutup konsernya malam ini. Tanpa ia sadari sudut matanya terasa basah begitu ia melihat perempuan mungil itu membungkuk di tengah panggung untuk mengakhiri konser malam ini. Dia tahu, jika perempuan itu merasa sangat beruntung memiliki penggemar sebesar ini. Dan dia tahu jika perempuan itu tak bisa menyampaikannya dengan kata-kata melainkan dengan satu gestur untuk menunjukkan perasaannya. Sesuatu yang membuat dia selalu kagum kepada Taeyeon.
Begitu konser benar-benar berakhir, dia pun segera pergi dari venue. Ingin pulang ke rumah dan berharap jika ia bisa menemui Taeyeon malam ini. Karena mungkin saja ada banyak acara yang harus Taeyeon lakukan setelah konser malam ini. Entahlah. Dia tak bertanya pada perempuan itu.
Dalam perjalanan pulang, dia menyempatkan untuk mengirim pesan kepada Taeyeon. Menanyakan apakah Taeyeon akan langsung pulang malam ini dan apakah dia bisa bertemu dengannya malam ini. Lama perjalanan mungkin sekitar setengah jam. Dan selama itulah dia menunggu balasan Taeyeon. Balasan itu baru ia dapatkan saat dia sampai di depan lift apartemen.
Maaf, sepertinya keluargaku akan menginap. Besok kamu sibuk?
Dia mendesah. Selalu seperti ini. Namun dia tak bisa menyalahkan siapapun. Tidak juga Taeyeon.
Ya sudah, besok malam saja. Selamat istirahat, boo. You’ve done so well. Aku bangga padamu.
Thank you : I really miss you*, Fany-ah. Sampai jumpa besok.
Suara TV seolah teredam saat kedua perempuan itu dengan bersemangat saling melumat bibir pasangannya. Ada banyak kerinduan dalam ciuman itu. Alih-laih nafsu. Sekalipun posisi mereka sama sekali tak mencerminkan kerinduan itu melainkan nafsu. Tiffany menarik dirinya dari Taeyeon. Ia duduk di ujung sofa dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Dia menatap Taeyeon dengan tatapan tak terbaca. Sedang mencerna semua ucapan Taeyeon di sela sesi mereka.
“Tae, kenapa kamu masih memikirkannya? Aku pikir kita sama-sama paham itu resiko kesibukan kita.”
“Apa kamu tidak bosan?” tanya Taeyeon. Ia meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya. “Aw. Kenapa kamu harus menggigitku!”
“You talk too much!” protes Tiffany yang masih kesal.
“Dengar Tiffany, aku tidak akan kesana kalau kita tidak menyelesaikan masalah ini.”
“Aku tidak melihat itu sebagai masalah, Taeyeon.”
“Jangan berbohong!”
Taeyeon menarik pundak Tiffany yang menempel di sofa. Membuat perempuan itu untuk duduk dan menatapnya saat berbicara. “Kamu tidak bosan?”
“Kamu bosan?”
Taeyeon menghela nafas dengan kasar. “Tidak. Tapi aku melihat hubungan ini percuma. Gak ada bedanya dari sekedar teman, kecuali we can taste each other.”
“What do you mean?!” bentak Tiffany. “We sacrifice a lot, Taeyeon. Just to make it work. Dan kamu bilang kita cuma fwb?!”
“Do you think so?” Taeyeon menegakkan punggungnya dan mendekat ke Tiffany. “Sekarang aku bertanya, selama satu setengah tahun, sebanyak-banyaknya waktu yang kita habiskan bersama, seberapa banyak yang kamu tahu tentang aku? Apa yang kamu tahu tentang aku kecuali dari artikel di luar sana?”
Tiffany terbungkam. Dia juga memikirkan hal yang sama. Dia terkadang bingung jika Taeyeon yang ia temui adalah Taeyeon bukan Taeyeon seorang penyanyi besar. Atau itu sebaliknya. Dan dari semua itu…
“Aku merasa aku tidak terlalu mengenalmu, Fany-ah. Jangan bilang kita berteman selama lima tahun, lantas aku tahu semua tentangmu. Kita berubah di setiap harinya. Dan kita tak punya waktu lebih untuk bercerita. Saat pertemuan kita? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja jika dibandingkan waktu pertemuan kita?”
Tiffany menghela nafas. “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Itu resiko Taeyeon. Kita bisa mengenal perlahan-lahan.”
“Entahlah.”
“Well, jika waktu yang kita butuhkan, aku berencana untuk istirahat selama beberapa bulan ke depan dan hanya mengambil beberapa pekerjaan kecil. Jadi katakan apa yang bisa kita lakukan, aku akan menyesuaikan jadwalmu.”
Giliran Taeyeon yang terdiam. Ia memutar tubuhnya menghadap tv yang entah sedang menampilkan tontonan apa. Menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan kepalanya. Kedua tangannya bertautan dengan cemas.
“Ini salahku kan? Aku yang tidak bisa.”
“Taeyeon…” potong Tiffany, ia menggenggam tangan Taeyeon dengan kedua tangannya dan memaksa Taeyeon untuk menatap matanya. Hingga ia sadari jika tatapan Taeyeon terlihat sedih. “Jangan bilang begitu.”
“Di hubungan ini, aku pikir kamu yang terlalu banyak berkorban, Fany-ah. Maafkan aku. Apa itu masih membuatmu bahagia denganku?”
“Pertanyaan macam apa itu?” dia menarik tubuh Taeyeon ke dekapannya. “Kalau tidak, aku sudah lari dari dulu, Tae.”
“Tapi-”
“Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan? Jangan pikirkan itu mungkin atau tidak. Katakan saja. We will figure it out.”
“Kamu bahagia sama aku?”
“Aku sudah menjawabnya, Tae.”
Taeyeon menegakkan punggungnya dan menatap Tiffany.
“Jangan berbohong, Fany-ah. Aku tahu kamu menahan-”
“Fine. Ya! Aku mengakui itu berat. Aku membutuhkanmu tapi kamu benar-benar memberiku waktu dua hari kemudian. Hanya ngobrol saat kita akan tertidur dan sama-sama lelah. Ya, itu berat Taeyeon. Tapi aku bisa apa? Aku juga tidak berbeda jauh darimu, tidak bisa selalu ada untukmu.”
“Then it won’t work, isn’t it?” bisiknya.
Keduanya hanya terdiam. Taeyeon hanya mampu menatap meja tanpa sepatah katapun. It’s too good to be true. Pikirannya terlalu riuh untuk sekedar menyadari jika mata Tiffany mulai berair.
“Kamu ingin menyerah?” tanya Tiffany dengan suara bergetar. Baru saat itulah Taeyeon menyadari jika Tiffany akan menangis, namun dia tak punya nyali untuk sekedar mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu kepada Tiffany.
“Aku… tidak tahu,” jawabnya lirih.
Dia tidak tahu apa keinginannya saat ini, karena pikirannya sekarang terpaku pada kebahagiaan Tiffany. Katakanlah itu klise, tapi dia menyadari jika menjadi dirinya bukan hal yang mudah. Semua orang tahu, idol sangat sulit untuk urusan berkencan. Bukan hanya masalah fans, norma, tapi waktu adalah satu masalah terbesar. Dan dia tidak ingin mengikat Tiffany untuk sesuatu yang melelahkan.
Mungkin yang ia rasakan sekarang adalah nyaman dengan Tiffany. Ah tidak juga. Dia merasa lebih hidup dengan Tiffany. Dia membutuhkan Tiffany yang totalitas mendukungnya. Nyaman saja tidak cukup untuk menggambarkan itu. Namun kembali lagi ke permasalahan ini, bukankah hubungan ini terlalu sulit untuk dikatakan berkencan? Karena berkencan sejauh yang Taeyeon tahu tidak seperti ini. Jika mereka tinggal di negara yang berbeda, mungkin Taeyeon akan memahami itu. Tapi ini… mereka tinggal di kota yang sama, namun terasa seperti mereka tinggal di negara yang berbeda tanpa ada jadwal yang cocok untuk bertemu.
Dalam diam Tiffany terus mencoba untuk mencari jalan. Dia juga menyayangkan jika hubungan ini akan berakhir. Bukan karena ia mengencani seorang Taeyeon si penyanyi besar, Diva Korea. Tapi ini karena Taeyeon adalah Taeyeon. Dia adalah support system utama baginya di saat ia tak benar-benar memiliki teman yang bisa ia percaya di Korea. Tidak juga dengan keluarga. Namun dengan Taeyeon, dia memiliki arti itu semua. Sekalipun waktu adalah penghalang bagi mereka. Tapi tetap saja it’s worth to wait. Waktu…
Lagi-lagi Tiffany membuang nafasnya. Dia sendiri tahu tak mungkin untuk menuntut lebih dari Taeyeon. Karena dia terikat kontrak yang lebih kuat daripada dirinya. Dan jadwal Taeyeon yang entah mengapa sangat padat yang bisa membuat ia khawatir pada kesehatan perempuan itu.
Tiba-tiba teringat tentang tawaran yang Taeyeon katakan beberapa waktu yang lalu. “Kamu butuh stylist baru kan?”
Taeyeon mengangguk lemah.
“Baiklah aku bersedia.”
“Tapi kamu bilang kamu ingin istirahat. Makanya aku tidak bertanya lagi.”
“KIM TAEYEON!” bentak Tiffany yang membuat Taeyeon menatapnya kaget. “Stop driving me crazy.”
“Kamu sendiri yang bilang kalau ingin istirahat kan? Kamu merencanakannya dari akhir tahun kemarin.”
Dengan kesal Tiffany membuang nafasnya. “Aku tidak memahamimu. Kamu selfless tapi kamu batu. Sekali kamu memutuskan untuk percaya sesuatu kenapa harus sesulit itu untuk mengubahnya?”
“Aku salah? Aku hanya tidak mau kamu mengubah rencanamu karenaku. Kalau kamu bekerja denganku, itu artinya rencanamu akan tertunda. Tidak akan ada istirahat.”
“Lalu apa yang kamu inginkan? Apa yang aku harus lakukan? Aku hanya ingin mencobanya agar ini berhasil, Tae,” ucap Tiffany setengah gila. Dia benar-benar menekan emosinya untuk tidak meledak malam ini.
“Aku ingin kamu bahagia.”
See? Selfless tapi batu, batin Tiffany.
“Lalu biarkan aku jadi stylist-mu. Kita akan punya jadwal yang sama, kita pergi bersama ke mana pun. Problem solved.”
“Kamu yakin tidak akan menyesal? Kamu tahu jadwalku kan, kamu tidak akan bisa beristirahat.”
“Ya! Jadi berhentilah berbicara dan terima itu!”
“Kamu yakin?”
“Kamu tidak?” suara Tiffany meninggi tidak sabar. “We’re trying, Taeyeon. Itu satu-satunya cara kita bertemu dan memperbaiki ini kalau kamu mau hubungan kita berlanjut.”
“Of course I am!”
“Bagus. Aku hanya akan bekerja untukmu dan meninggalkan pekerjaanku yang lain. Jadi terima aku mulai sekarang. Dan ingat Tae,” suara Tiffany mulai stabil dan lembut, “setiap hari kita akan bertemu. Ada dua kemungkinan, apakah hubungan ini akan tetap berjalan atau kita sama-sama muak. Jadi ingat satu permintaanku. Apapun keadaannya nanti, kita harus mencobanya dan jangan pikirkan apapun. Selalu katakan apa yang kamu mau. Out loud, we will figure it out dan berhenti menjadi selfless yang batu. You literally drive me crazy.”
Tak ada respon apapun dari Taeyeon kecuali senyum kecil yang coba ia sembunyikan. “Clear?”
“Ya… clear,” jawabnya dengan anggukan antusias. Karena sebetulnya ia menginginkan hal yang sama, namun dia tidak terlalu memaksa mengingat rencana Tiffany dari akhir tahun yang lalu. “Dan kamu juga harus berjanji untuk selalu katakan itu. Tidak memendam seperti sekarang. Paham?”
“Ok. Deal.”
“Problem solved. Sebagai balasannya, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Untuk hari ini saja. Apapun,” ucapnya yang merasa berhutang pada pacarnya sendiri.
“Bagus, Taeyeon.”
“Jadi apa yang kamu mau?”
“Shut up and kiss me, Taeyeon. Kamu merusak sesi kita tadi.”
Tanpa memberi waktu bagi Taeyeon untuk protes, Tiffany segera menubruk tubuh itu dan menekan Taeyeon ke sofa dengan agresif. Jelas, dengan senang hati Taeyeon tidak menolak. Justru dia sangat menyukai sisi agresif Tiffany. Walaupun terkadang tidak sesuai dengan suasana.