<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Bola Ubi (taengoori)</title>
    <link>https://taengoori.writeas.com/</link>
    <description>SM Stan | Writer | I write everything especially  about Taeny, Seulrene, and Bluesy | Don&#39;t forget to leave your feedback on my CC, link on: linktr.ee/taengoori</description>
    <pubDate>Wed, 04 Nov 2026 03:16:53 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>DIVA STYLIST</title>
      <link>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist-j1hn?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#divastylist #snsd #divastylist2&#xA;&#xA;Part 2&#xA;&#xA;Kesibukan Taeyeon tak juga surut. Banyak sekali yang harus ia lakukan di awal tahun ini. Dia masih memiliki jadwal konser di Seoul dan tour Jepang. Ditambah dengan persiapan variety show di mana dia akan melakukan busking bersama beberapa musisi lain di Jerman dan Belanda. Latihan dengan band untuk konser, lalu busking, lalu dance. Banyak sekali yang harus ia lakukan. Sangat sulit bagi Taeyeon untuk mencari waktu untuk sekedar bertemu dengan kekasihnya. Sekalipun terkadang perempuan itu mampir ke rumah Taeyeon, tak banyak yang mereka lakukan. Karena mereka hanya bertemu saat malam telah larut, saat mereka sama-sama lelah dan berakhir hanya tidur bersama.&#xA;!--more--&#xA;Selalu seperti itu, entah siapa yang bangun lebih dulu. Yang jelas, sangat jarang untuk melihat keduanya sekedar makan bersama. Terkadang hal itu membuat Taeyeon sedikit meragu dan merasa bersalah.&#xA;&#xA;Berselisih adalah hal yang biasa bagi mereka. Atau membalas pesan dua hingga tiga hari setelah pesan diterima bukan hal baru bagi mereka. Mereka tidak akan bertukar kabar kecuali itu hal mendesak dan mereka memiliki waktu untuk sendiri ataupun ketika mereka merasa sangat lelah dan membutuhkan satu sama lain. Walaupun terkadang hanya sebatas melalui telepon atau video call. Ada banyak alasan bagi mereka untuk mengakhiri cerita, tapi mereka terlalu lekat satu sama lain. Mereka saling membutuhkan. Dan Taeyeon pikir akan sulit mencari orang lain seperti kekasihnya yang sangat memahaminya dan tak banyak menuntut di tengah kesibukan mereka.&#xA;&#xA;Hari ini, H-1 konser Taeyeon di Seoul. Mereka tak juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu setelah weekend satu minggu yang lalu. Saat Taeyeon nekat pergi ke apartemen kekasihnya karena dia sangat lelah dan ingin menghilang. Dan itulah satu-satunya waktu dimana mereka bisa bertemu di minggu itu. Sebelum akhirnya mengulangi siklus saat mereka sama-sama sibuk.&#xA;&#xA;Sudah pukul satu lebih saat Taeyeon memutuskan untuk menelepon. Dia tidak berharap perempuan itu akan mengangkatnya. Namun ia salah, perempuan itu mengangkat setelah beberapa detik berdering.&#xA;&#xA;“Hi, tidur?”&#xA;&#xA;“Belum,” ia mendengar suara perempuan sama lelahnya dengan dia. &#xA;&#xA;“Rehearsal-mu sudah selesai?”&#xA;&#xA;“Ya.”&#xA;&#xA;“Beristirahatlah. Kamu harus tampil 2 jam.”&#xA;&#xA;“Ya.”&#xA;&#xA;Ada hening sejenak di antara mereka. Hingga suara nafas mereka yang mengambil alih keheningan malam.&#xA;&#xA;“Is everything ok?”&#xA;&#xA;Taeyeon menggeleng tanpa perempuan itu sadari. “Kamu akan datang besok?” Taeyeon mengalihkan topik pembicaraan itu. Dia tidak siap untuk membicarakannya. Tidak ketika dia sendiri masih menganggap pikiran itu berlebihan.&#xA;&#xA;“Tentu, aku akan datang.”&#xA;&#xA;“Ke backstage? Aku akan mintakan akses ke manajerku.”&#xA;&#xA;Taeyeon mendengar desahan dari ujung telepon.&#xA;&#xA;“Maaf, Tae. But I can’t. Not right now, ok?”&#xA;&#xA;Itu yang selalu terucap dari perempuan itu. Sangat sulit bagi mereka untuk berpura-pura sejenak sebagai seorang teman atau sahabat. Jangan salah, bertemu Taeyeon di backstage adalah impian perempuan itu. Tapi tidak sekarang. Dia terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Walaupun sebetulnya sekarang sudah lebih dari satu setengah tahun mereka berkencan tanpa seorangpun yang tahu.&#xA;&#xA;“Kalau begitu duduk di dekat keluargaku. Aku ingat ada beberapa kursi kosong di sana. Aku ingin melihat kamu saat aku menyapa mereka.”&#xA;&#xA;“Ok,” jawab perempuan itu pasrah. Pun keluarga Taeyeon hanya tahu jika dia adalah kenalan Taeyeon. “Can we switch to video? Aku ingin melihatmu sekarang.”&#xA;&#xA;Taeyeon menyetujuinya, dan begitu layar ponselnya berubah, terlihatlah dua perempuan yang saling melempar senyum dengan mata lelah yang tak bisa mereka sembunyikan.&#xA;&#xA;“I miss you, Taeyeon.”&#xA;&#xA;“I miss you, too,” ucapnya dengan senyuman yang tak sampai di mata. “I really wish we had plenty of time to spend together. Dan keberanian.”&#xA;&#xA;Taeyeon melihat ada kesedihan yang sama di mata perempuan itu. Bodoh. Dia tidak bermaksud membuat perempuan itu merasa terbebani. &#xA;&#xA;“I’m sorry.”&#xA;&#xA;“Tidak… tidak.. Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa bersalah karena sepertinya aku menganggap hubungan ini salah. Maksudku…”&#xA;&#xA;“Maksud kamu?”&#xA;&#xA;Taeyeon merutuki ucapannya sendiri. Sesuatu yang belum siap ia utarakan tiba-tiba terselip begitu saja. Bodoh.&#xA;&#xA;“Dengar, ok. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku merasa jika kita ini salah. Terutama aku. Aku selalu tidak bisa menyempatkan waktu untuk kita. Selalu sibuk. Bahkan untuk pergi di hari ulang tahunku pun aku tidak bisa. Aku merasa kalau aku hanya… memanfaatkanmu.”&#xA;&#xA;“Taeyeon,” sela perempuan itu.&#xA;&#xA;“It’s just too good to be true untuk sebuah hubungan,” sambung Taeyeon mengabaikan perempuan itu. “Ada banyak alasan kita bisa mengakhiri semua ini. Tidak. Ada banyak alasan untuk kamu bisa lari dari aku. Dan itu tidak salah.”&#xA;&#xA;“Taeyeon!”&#xA;&#xA;“Kamu selalu ada, bahkan bisa menyempatkan waktu ke konserku. Tapi aku tidak. Dari 30 hari dalam sebulan, aku hanya bisa memberimu 10 hari. Dan terkadang kurang-”&#xA;&#xA;“KIM TAEYEON!” perempuan itu berteriak untuk menghentikan ucapan Taeyeon.&#xA;&#xA;“Apa?”&#xA;&#xA;“You’re not, ok? Kamu gak seperti itu.”&#xA;&#xA;“Tunggu dulu aku belum selesai.”&#xA;&#xA;“Lebih baik kamu tidur, Tae. Konsermu bukan hal yang mudah, kamu harus mempersiapkan tenagamu untuk itu. Kita akan bicara setelah konser.”&#xA;&#xA;“Tidak. Aku tidak bisa fokus nanti. Tolong dengarkan aku sampai selesai.”&#xA;&#xA;Perempuan itu hanya bisa mendengus dan memutar bola matanya saat Taeyeon kembali mengeluarkan isi kepalanya. Panjang sekali. Dan tidak ada kesempatan baginya untuk menghentikan Taeyeon. Semua yang Taeyeon utarakan adalah insecurity dari Taeyeon dalam hubungan mereka. Pekerjaan yang membuat mereka tak memiliki banyak waktu. Stress, bertengkar, dan hanya bertemu saat malam. Tak banyak yang mereka lakukan seperti pasangan pada umumnya. Kecuali berkencan di rumah, meminum wine dan berakhir di ranjang.&#xA;&#xA;Mereka merindukan satu sama lain dan saling membutuhkan. Dan itulah cara mereka melampiaskan semuanya saat mereka memiliki waktu untuk bertemu. Namun sepertinya Taeyeon merasa itu salah, seolah dia memanfaatkan perempuan itu. Taeyeon selalu lupa dengan hal kecil yang mereka lakukan selain itu.&#xA;&#xA;“Sudah selesai?”&#xA;&#xA;“Belum, tunggu dulu aku ingin bertanya,” ucap Taeyeon. “Kamu masih ingin bertahan denganku?”&#xA;&#xA;“Mendengarmu? Masih ada berapa banyak di kepalamu?”&#xA;&#xA;“Bukan itu. Kita. Kamu masih ingin kita berlanjut?”&#xA;&#xA;“Kamu tidak?”&#xA;&#xA;“Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Boo!”&#xA;&#xA;“Kenapa tidak?” Taeyeon mendesis untuk tidak berteriak ke perempuan itu begitu ia mendengar pertanyaan yang dilempar kembali padanya.&#xA;&#xA;“Dengar, Taeyeon. Yang kamu sebutkan tadi bukan murni karena keinginan kita atau salah kita. Itu karena pekerjaan kita. Kita tidak bisa menuntut banyak tentang itu, karena kita memiliki kontrak dan tidak bisa diganggu seenaknya. Aku harap kita sama-sama memahaminya,” terangnya.&#xA;&#xA;“Aku sama sekali tidak melihat kamu memanfaatkanku. Kamu selalu menyempatkan waktu untuk meneleponku. Atau datang ke rumahku. Atau sekedar mengirim makanan ke tempat kerjaku. And that’s enough for me. More than enough. Aku memahami jadwal kita, pekerjaan kita, dan norma di sini. Kalau kamu bertanya apakah aku pernah muak? Ya aku pernah, Taeyeon. Tapi entahlah, aku pikir saat kita bisa bertemu semua kerinduan terbayar di sana. Kita sama-sama merelakan waktu istirahat, tapi itu impaskan? Aku tidak pernah merasa ada yang kurang, kita selalu berusaha memanfaatkan waktu itu dengan baik.”&#xA;&#xA;“Jangan pernah berpikir lagi seperti itu. Dan cepat tidur! Awas konsermu besok gagal, jangan buat aku menyia-nyiakan waktuku untuk ikut war tiketmu.”&#xA;&#xA;“War? Kamu membelinya? Bukannya aku sudah memberimu satu tiket?”&#xA;&#xA;“Aku ingin melihat segila apa rumor itu. Dan memang benar, fans-mu sangat gila, Taeyeon. Hanya 1 detik dan tiket konsermu habis. Jadi jangan kecewakan mereka dan cepat tidur sekarang!”&#xA;&#xA; “Ok. Satu pertanyaan lagi?”&#xA;&#xA;Perempuan itu menghela napas, “baiklah.”&#xA;&#xA;“Bagaimana jika kita bekerja bersama? Maksudku kamu bekerja denganku.”&#xA;&#xA;“Jadi stylist-mu?” Taeyeon mengangguk antusias. “Kamu yakin? Akan mendengarkanku? Omelanku?”&#xA;&#xA;“Seperti yang kamu bilang tadi, harus ada yang direlakan, tapi itu impas dengan pengorbanan.”&#xA;&#xA;“Maksud kamu?!”&#xA;&#xA;“Aku akan menguatkan telinga, mendengar omelanmu supaya kita punya banyak waktu bersama. Bagaimana?”&#xA;&#xA;“Yah! Aku tak seburuk itu. Kamu saja yang bebal. Sekarang tidur Taeyeon, aku mohon. Jangan kecewakan fans-mu.”&#xA;&#xA;Taeyeon masih tak puas, “tapi-”&#xA;&#xA;“Tidur, Taeyeon. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Dan kalau konsermu gagal karena kamu mengantuk atau lupa lirik aku akan menyebarkan foto tidurmu dengan mulut terbuka.”&#xA;&#xA;“Yah!”&#xA;&#xA;“Tidur sekarang!”&#xA;&#xA;“Yes Mom! Aku akan tidur sekarang. Jangan lupa untuk duduk di dekat keluargaku. Bye boo. Sampai jumpa besok.”&#xA;&#xA;----&#xA;&#xA;Dari sudut itu, dia berdiri dengan bangga saat melihat Taeyeon dengan sukses menutup konsernya malam ini. Tanpa ia sadari sudut matanya terasa basah begitu ia melihat perempuan mungil itu membungkuk di tengah panggung untuk mengakhiri konser malam ini. Dia tahu, jika perempuan itu merasa sangat beruntung memiliki penggemar sebesar ini. Dan dia tahu jika perempuan itu tak bisa menyampaikannya dengan kata-kata melainkan dengan satu gestur untuk menunjukkan perasaannya. Sesuatu yang membuat dia selalu kagum kepada Taeyeon.&#xA;&#xA;Begitu konser benar-benar berakhir, dia pun segera pergi dari venue. Ingin pulang ke rumah dan berharap jika ia bisa menemui Taeyeon malam ini. Karena mungkin saja ada banyak acara yang harus Taeyeon lakukan setelah konser malam ini. Entahlah. Dia tak bertanya pada perempuan itu.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan pulang, dia menyempatkan untuk mengirim pesan kepada Taeyeon. Menanyakan apakah Taeyeon akan langsung pulang malam ini dan apakah dia bisa bertemu dengannya malam ini.&#xA;Lama perjalanan mungkin sekitar setengah jam. Dan selama itulah dia menunggu balasan Taeyeon. Balasan itu baru ia dapatkan saat dia sampai di depan lift apartemen. &#xA;&#xA;Maaf, sepertinya keluargaku akan menginap. Besok kamu sibuk?&#xA;&#xA;Dia mendesah. Selalu seperti ini. Namun dia tak bisa menyalahkan siapapun. Tidak juga Taeyeon.&#xA;&#xA;Ya sudah, besok malam saja. Selamat istirahat, boo. You’ve done so well. Aku bangga padamu. &#xA;&#xA;Thank you : I really miss you, Fany-ah. Sampai jumpa besok.&#xA;&#xA;----&#xA;&#xA;Suara TV seolah teredam saat kedua perempuan itu dengan bersemangat saling melumat bibir pasangannya. Ada banyak kerinduan dalam ciuman itu. Alih-laih nafsu. Sekalipun posisi mereka sama sekali tak mencerminkan kerinduan itu melainkan nafsu.&#xA;Tiffany menarik dirinya dari Taeyeon. Ia duduk di ujung sofa dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Dia menatap Taeyeon dengan tatapan tak terbaca. Sedang mencerna semua ucapan Taeyeon di sela sesi mereka.&#xA;&#xA;“Tae, kenapa kamu masih memikirkannya? Aku pikir kita sama-sama paham itu resiko kesibukan kita.”&#xA;&#xA;“Apa kamu tidak bosan?” tanya Taeyeon. Ia meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya. “Aw. Kenapa kamu harus menggigitku!”&#xA;&#xA;“You talk too much!” protes Tiffany yang masih kesal.&#xA;&#xA;“Dengar Tiffany, aku tidak akan kesana kalau kita tidak menyelesaikan masalah ini.”&#xA;&#xA;“Aku tidak melihat itu sebagai masalah, Taeyeon.”&#xA;&#xA;“Jangan berbohong!”&#xA;&#xA;Taeyeon menarik pundak Tiffany yang menempel di sofa. Membuat perempuan itu untuk duduk dan menatapnya saat berbicara. “Kamu tidak bosan?”&#xA;&#xA;“Kamu bosan?”&#xA;&#xA;Taeyeon menghela nafas dengan kasar. “Tidak. Tapi aku melihat hubungan ini percuma. Gak ada bedanya dari sekedar teman, kecuali we can taste each other.”&#xA;&#xA;“What do you mean?!” bentak Tiffany. “We sacrifice a lot, Taeyeon. Just to make it work. Dan kamu bilang kita cuma fwb?!”&#xA;&#xA;“Do you think so?” Taeyeon menegakkan punggungnya dan mendekat ke Tiffany. “Sekarang aku bertanya, selama satu setengah tahun, sebanyak-banyaknya waktu yang kita habiskan bersama, seberapa banyak yang kamu tahu tentang aku? Apa yang kamu tahu tentang aku kecuali dari artikel di luar sana?”&#xA;&#xA;Tiffany terbungkam. Dia juga memikirkan hal yang sama. Dia terkadang bingung jika Taeyeon yang ia temui adalah Taeyeon bukan Taeyeon seorang penyanyi besar. Atau itu sebaliknya. Dan dari semua itu… &#xA;&#xA;“Aku merasa aku tidak terlalu mengenalmu, Fany-ah. Jangan bilang kita berteman selama lima tahun, lantas aku tahu semua tentangmu. Kita berubah di setiap harinya. Dan kita tak punya waktu lebih untuk bercerita. Saat pertemuan kita? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja jika dibandingkan waktu pertemuan kita?”&#xA;&#xA;Tiffany menghela nafas. “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Itu resiko Taeyeon. Kita bisa mengenal perlahan-lahan.”&#xA;&#xA;“Entahlah.”&#xA;&#xA;“Well, jika waktu yang kita butuhkan, aku berencana untuk istirahat selama beberapa bulan ke depan dan hanya mengambil beberapa pekerjaan kecil. Jadi katakan apa yang bisa kita lakukan, aku akan menyesuaikan jadwalmu.”&#xA;&#xA;Giliran Taeyeon yang terdiam. Ia memutar tubuhnya menghadap tv yang entah sedang menampilkan tontonan apa. Menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan kepalanya. Kedua tangannya bertautan dengan cemas.&#xA;&#xA;“Ini salahku kan? Aku yang tidak bisa.”&#xA;&#xA;“Taeyeon…” potong Tiffany, ia menggenggam tangan Taeyeon dengan kedua tangannya dan memaksa Taeyeon untuk menatap matanya. Hingga ia sadari jika tatapan Taeyeon terlihat sedih. “Jangan bilang begitu.”&#xA;&#xA;“Di hubungan ini, aku pikir kamu yang terlalu banyak berkorban, Fany-ah. Maafkan aku. Apa itu masih membuatmu bahagia denganku?”&#xA;&#xA;“Pertanyaan macam apa itu?” dia menarik tubuh Taeyeon ke dekapannya. “Kalau tidak, aku sudah lari dari dulu, Tae.”&#xA;&#xA;“Tapi-”&#xA;&#xA;“Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan? Jangan pikirkan itu mungkin atau tidak. Katakan saja. We will figure it out.”&#xA;&#xA;“Kamu bahagia sama aku?”&#xA;&#xA;“Aku sudah menjawabnya, Tae.”&#xA;&#xA;Taeyeon menegakkan punggungnya dan menatap Tiffany.&#xA;&#xA;“Jangan berbohong, Fany-ah. Aku tahu kamu menahan-”&#xA;&#xA;“Fine. Ya! Aku mengakui itu berat. Aku membutuhkanmu tapi kamu benar-benar memberiku waktu dua hari kemudian. Hanya ngobrol saat kita akan tertidur dan sama-sama lelah. Ya, itu berat Taeyeon. Tapi aku bisa apa? Aku juga tidak berbeda jauh darimu, tidak bisa selalu ada untukmu.”&#xA;&#xA;“Then it won’t work, isn’t it?” bisiknya.&#xA;&#xA;Keduanya hanya terdiam. Taeyeon hanya mampu menatap meja tanpa sepatah katapun. It’s too good to be true. Pikirannya terlalu riuh untuk sekedar menyadari jika mata Tiffany mulai berair.&#xA;&#xA;“Kamu ingin menyerah?” tanya Tiffany dengan suara bergetar. &#xA;Baru saat itulah Taeyeon menyadari jika Tiffany akan menangis, namun dia tak punya nyali untuk sekedar mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu kepada Tiffany.&#xA;&#xA;“Aku… tidak tahu,” jawabnya lirih. &#xA;&#xA;Dia tidak tahu apa keinginannya saat ini, karena pikirannya sekarang terpaku pada kebahagiaan Tiffany. Katakanlah itu klise, tapi dia menyadari jika menjadi dirinya bukan hal yang mudah. Semua orang tahu, idol sangat sulit untuk urusan berkencan. Bukan hanya masalah fans, norma, tapi waktu adalah satu masalah terbesar. Dan dia tidak ingin mengikat Tiffany untuk sesuatu yang melelahkan.&#xA;&#xA;Mungkin yang ia rasakan sekarang adalah nyaman dengan Tiffany. Ah tidak juga. Dia merasa lebih hidup dengan Tiffany. Dia membutuhkan Tiffany yang totalitas mendukungnya. Nyaman saja tidak cukup untuk menggambarkan itu. Namun kembali lagi ke permasalahan ini, bukankah hubungan ini terlalu sulit untuk dikatakan berkencan? Karena berkencan sejauh yang Taeyeon tahu tidak seperti ini. Jika mereka tinggal di negara yang berbeda, mungkin Taeyeon akan memahami itu. Tapi ini… mereka tinggal di kota yang sama, namun terasa seperti mereka tinggal di negara yang berbeda tanpa ada jadwal yang cocok untuk bertemu.&#xA;&#xA;Dalam diam Tiffany terus mencoba untuk mencari jalan. Dia juga menyayangkan jika hubungan ini akan berakhir. Bukan karena ia mengencani seorang Taeyeon si penyanyi besar, Diva Korea. Tapi ini karena Taeyeon adalah Taeyeon. Dia adalah support system utama baginya di saat ia tak benar-benar memiliki teman yang bisa ia percaya di Korea. Tidak juga dengan keluarga. Namun dengan Taeyeon, dia memiliki arti itu semua. Sekalipun waktu adalah penghalang bagi mereka. Tapi tetap saja it’s worth to wait.&#xA;Waktu… &#xA;&#xA;Lagi-lagi Tiffany membuang nafasnya. Dia sendiri tahu tak mungkin untuk menuntut lebih dari Taeyeon. Karena dia terikat kontrak yang lebih kuat daripada dirinya. Dan jadwal Taeyeon yang entah mengapa sangat padat yang bisa membuat ia khawatir pada kesehatan perempuan itu.&#xA;&#xA;Tiba-tiba teringat tentang tawaran yang Taeyeon katakan beberapa waktu yang lalu. “Kamu butuh stylist baru kan?”&#xA;&#xA;Taeyeon mengangguk lemah.&#xA;&#xA;“Baiklah aku bersedia.”&#xA;&#xA;“Tapi kamu bilang kamu ingin istirahat. Makanya aku tidak bertanya lagi.”&#xA;&#xA;“KIM TAEYEON!” bentak Tiffany yang membuat Taeyeon menatapnya kaget. “Stop driving me crazy.”&#xA;&#xA;“Kamu sendiri yang bilang kalau ingin istirahat kan? Kamu merencanakannya dari akhir tahun kemarin.”&#xA;&#xA;Dengan kesal Tiffany membuang nafasnya. “Aku tidak memahamimu. Kamu selfless tapi kamu batu. Sekali kamu memutuskan untuk percaya sesuatu kenapa harus sesulit itu untuk mengubahnya?”&#xA;&#xA;“Aku salah? Aku hanya tidak mau kamu mengubah rencanamu karenaku. Kalau kamu bekerja denganku, itu artinya rencanamu akan tertunda. Tidak akan ada istirahat.”&#xA;&#xA;“Lalu apa yang kamu inginkan? Apa yang aku harus lakukan? Aku hanya ingin mencobanya agar ini berhasil, Tae,” ucap Tiffany setengah gila. Dia benar-benar menekan emosinya untuk tidak meledak malam ini.&#xA;&#xA;“Aku ingin kamu bahagia.”&#xA;&#xA;See? Selfless tapi batu, batin Tiffany. &#xA;&#xA;“Lalu biarkan aku jadi stylist-mu. Kita akan punya jadwal yang sama, kita pergi bersama ke mana pun. Problem solved.”&#xA;&#xA;“Kamu yakin tidak akan menyesal? Kamu tahu jadwalku kan, kamu tidak akan bisa beristirahat.”&#xA;&#xA;“Ya! Jadi berhentilah berbicara dan terima itu!”&#xA;&#xA;“Kamu yakin?”&#xA;&#xA;“Kamu tidak?” suara Tiffany meninggi tidak sabar. “We’re trying, Taeyeon. Itu satu-satunya cara kita bertemu dan memperbaiki ini kalau kamu mau hubungan kita berlanjut.”&#xA;&#xA;“Of course I am!”&#xA;&#xA;“Bagus. Aku hanya akan bekerja untukmu dan meninggalkan pekerjaanku yang lain. Jadi terima aku mulai sekarang. Dan ingat Tae,” suara Tiffany mulai stabil dan lembut, “setiap hari kita akan bertemu. Ada dua kemungkinan, apakah hubungan ini akan tetap berjalan atau kita sama-sama muak. Jadi ingat satu permintaanku. Apapun keadaannya nanti, kita harus mencobanya dan jangan pikirkan apapun. Selalu katakan apa yang kamu mau. Out loud, we will figure it out dan berhenti menjadi selfless yang batu. You literally drive me crazy.”&#xA;&#xA;Tak ada respon apapun dari Taeyeon kecuali senyum kecil yang coba ia sembunyikan. “Clear?”&#xA;&#xA;“Ya… clear,” jawabnya dengan anggukan antusias. Karena sebetulnya ia menginginkan hal yang sama, namun dia tidak terlalu memaksa mengingat rencana Tiffany dari akhir tahun yang lalu. “Dan kamu juga harus berjanji untuk selalu katakan itu. Tidak memendam seperti sekarang. Paham?” &#xA;&#xA;“Ok. Deal.”  &#xA;&#xA;“Problem solved. Sebagai balasannya, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Untuk hari ini saja. Apapun,” ucapnya yang merasa berhutang pada pacarnya sendiri.&#xA;&#xA;“Bagus, Taeyeon.”&#xA;&#xA;“Jadi apa yang kamu mau?”&#xA;&#xA;“Shut up and kiss me*, Taeyeon. Kamu merusak sesi kita tadi.” &#xA;&#xA;Tanpa memberi waktu bagi Taeyeon untuk protes, Tiffany segera menubruk tubuh itu dan menekan Taeyeon ke sofa dengan agresif. Jelas, dengan senang hati Taeyeon tidak menolak. Justru dia sangat menyukai sisi agresif Tiffany. Walaupun terkadang tidak sesuai dengan suasana. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;#divastylist #snsd #divastylist2 #taeny&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist2" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist2</span></a></p>

<p><strong>Part 2</strong></p>

<p>Kesibukan Taeyeon tak juga surut. Banyak sekali yang harus ia lakukan di awal tahun ini. Dia masih memiliki jadwal konser di Seoul dan <em>tour</em> Jepang. Ditambah dengan persiapan <em>variety show</em> di mana dia akan melakukan <em>busking</em> bersama beberapa musisi lain di Jerman dan Belanda. Latihan dengan band untuk konser, lalu <em>busking</em>, lalu <em>dance</em>. Banyak sekali yang harus ia lakukan. Sangat sulit bagi Taeyeon untuk mencari waktu untuk sekedar bertemu dengan kekasihnya. Sekalipun terkadang perempuan itu mampir ke rumah Taeyeon, tak banyak yang mereka lakukan. Karena mereka hanya bertemu saat malam telah larut, saat mereka sama-sama lelah dan berakhir hanya tidur bersama.

Selalu seperti itu, entah siapa yang bangun lebih dulu. Yang jelas, sangat jarang untuk melihat keduanya sekedar makan bersama. Terkadang hal itu membuat Taeyeon sedikit meragu dan merasa bersalah.</p>

<p>Berselisih adalah hal yang biasa bagi mereka. Atau membalas pesan dua hingga tiga hari setelah pesan diterima bukan hal baru bagi mereka. Mereka tidak akan bertukar kabar kecuali itu hal mendesak dan mereka memiliki waktu untuk sendiri ataupun ketika mereka merasa sangat lelah dan membutuhkan satu sama lain. Walaupun terkadang hanya sebatas melalui telepon atau <em>video call</em>. Ada banyak alasan bagi mereka untuk mengakhiri cerita, tapi mereka terlalu lekat satu sama lain. Mereka saling membutuhkan. Dan Taeyeon pikir akan sulit mencari orang lain seperti kekasihnya yang sangat memahaminya dan tak banyak menuntut di tengah kesibukan mereka.</p>

<p>Hari ini, H-1 konser Taeyeon di Seoul. Mereka tak juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu setelah <em>weekend</em> satu minggu yang lalu. Saat Taeyeon nekat pergi ke apartemen kekasihnya karena dia sangat lelah dan ingin menghilang. Dan itulah satu-satunya waktu dimana mereka bisa bertemu di minggu itu. Sebelum akhirnya mengulangi siklus saat mereka sama-sama sibuk.</p>

<p>Sudah pukul satu lebih saat Taeyeon memutuskan untuk menelepon. Dia tidak berharap perempuan itu akan mengangkatnya. Namun ia salah, perempuan itu mengangkat setelah beberapa detik berdering.</p>

<p>“Hi, tidur?”</p>

<p>“Belum,” ia mendengar suara perempuan sama lelahnya dengan dia.</p>

<p>“<em>Rehearsal</em>-mu sudah selesai?”</p>

<p>“Ya.”</p>

<p>“Beristirahatlah. Kamu harus tampil 2 jam.”</p>

<p>“Ya.”</p>

<p>Ada hening sejenak di antara mereka. Hingga suara nafas mereka yang mengambil alih keheningan malam.</p>

<p>“<em>Is everything ok</em>?”</p>

<p>Taeyeon menggeleng tanpa perempuan itu sadari. “Kamu akan datang besok?” Taeyeon mengalihkan topik pembicaraan itu. Dia tidak siap untuk membicarakannya. Tidak ketika dia sendiri masih menganggap pikiran itu berlebihan.</p>

<p>“Tentu, aku akan datang.”</p>

<p>“Ke <em>backstage</em>? Aku akan mintakan akses ke manajerku.”</p>

<p>Taeyeon mendengar desahan dari ujung telepon.</p>

<p>“Maaf, Tae. <em>But I can’t. Not right now, ok</em>?”</p>

<p>Itu yang selalu terucap dari perempuan itu. Sangat sulit bagi mereka untuk berpura-pura sejenak sebagai seorang teman atau sahabat. Jangan salah, bertemu Taeyeon di backstage adalah impian perempuan itu. Tapi tidak sekarang. Dia terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Walaupun sebetulnya sekarang sudah lebih dari satu setengah tahun mereka berkencan tanpa seorangpun yang tahu.</p>

<p>“Kalau begitu duduk di dekat keluargaku. Aku ingat ada beberapa kursi kosong di sana. Aku ingin melihat kamu saat aku menyapa mereka.”</p>

<p>“Ok,” jawab perempuan itu pasrah. Pun keluarga Taeyeon hanya tahu jika dia adalah kenalan Taeyeon. “<em>Can we switch to video</em>? Aku ingin melihatmu sekarang.”</p>

<p>Taeyeon menyetujuinya, dan begitu layar ponselnya berubah, terlihatlah dua perempuan yang saling melempar senyum dengan mata lelah yang tak bisa mereka sembunyikan.</p>

<p>“<em>I miss you</em>, Taeyeon.”</p>

<p>“<em>I miss you, too</em>,” ucapnya dengan senyuman yang tak sampai di mata. “<em>I really wish we had plenty of time to spend together</em>. Dan keberanian.”</p>

<p>Taeyeon melihat ada kesedihan yang sama di mata perempuan itu. Bodoh. Dia tidak bermaksud membuat perempuan itu merasa terbebani.</p>

<p>“<em>I’m sorry</em>.”</p>

<p>“Tidak… tidak.. Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa bersalah karena sepertinya aku menganggap hubungan ini salah. Maksudku…”</p>

<p>“Maksud kamu?”</p>

<p>Taeyeon merutuki ucapannya sendiri. Sesuatu yang belum siap ia utarakan tiba-tiba terselip begitu saja. Bodoh.</p>

<p>“Dengar, ok. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku merasa jika kita ini salah. Terutama aku. Aku selalu tidak bisa menyempatkan waktu untuk kita. Selalu sibuk. Bahkan untuk pergi di hari ulang tahunku pun aku tidak bisa. Aku merasa kalau aku hanya… memanfaatkanmu.”</p>

<p>“Taeyeon,” sela perempuan itu.</p>

<p>“<em>It’s just too good to be true</em> untuk sebuah hubungan,” sambung Taeyeon mengabaikan perempuan itu. “Ada banyak alasan kita bisa mengakhiri semua ini. Tidak. Ada banyak alasan untuk kamu bisa lari dari aku. Dan itu tidak salah.”</p>

<p>“Taeyeon!”</p>

<p>“Kamu selalu ada, bahkan bisa menyempatkan waktu ke konserku. Tapi aku tidak. Dari 30 hari dalam sebulan, aku hanya bisa memberimu 10 hari. Dan terkadang kurang-”</p>

<p>“KIM TAEYEON!” perempuan itu berteriak untuk menghentikan ucapan Taeyeon.</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>“<em>You’re not, ok</em>? Kamu gak seperti itu.”</p>

<p>“Tunggu dulu aku belum selesai.”</p>

<p>“Lebih baik kamu tidur, Tae. Konsermu bukan hal yang mudah, kamu harus mempersiapkan tenagamu untuk itu. Kita akan bicara setelah konser.”</p>

<p>“Tidak. Aku tidak bisa fokus nanti. Tolong dengarkan aku sampai selesai.”</p>

<p>Perempuan itu hanya bisa mendengus dan memutar bola matanya saat Taeyeon kembali mengeluarkan isi kepalanya. Panjang sekali. Dan tidak ada kesempatan baginya untuk menghentikan Taeyeon. Semua yang Taeyeon utarakan adalah <em>insecurity</em> dari Taeyeon dalam hubungan mereka. Pekerjaan yang membuat mereka tak memiliki banyak waktu. Stress, bertengkar, dan hanya bertemu saat malam. Tak banyak yang mereka lakukan seperti pasangan pada umumnya. Kecuali berkencan di rumah, meminum wine dan berakhir di ranjang.</p>

<p>Mereka merindukan satu sama lain dan saling membutuhkan. Dan itulah cara mereka melampiaskan semuanya saat mereka memiliki waktu untuk bertemu. Namun sepertinya Taeyeon merasa itu salah, seolah dia memanfaatkan perempuan itu. Taeyeon selalu lupa dengan hal kecil yang mereka lakukan selain itu.</p>

<p>“Sudah selesai?”</p>

<p>“Belum, tunggu dulu aku ingin bertanya,” ucap Taeyeon. “Kamu masih ingin bertahan denganku?”</p>

<p>“Mendengarmu? Masih ada berapa banyak di kepalamu?”</p>

<p>“Bukan itu. Kita. Kamu masih ingin kita berlanjut?”</p>

<p>“Kamu tidak?”</p>

<p>“Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Boo!”</p>

<p>“Kenapa tidak?” Taeyeon mendesis untuk tidak berteriak ke perempuan itu begitu ia mendengar pertanyaan yang dilempar kembali padanya.</p>

<p>“Dengar, Taeyeon. Yang kamu sebutkan tadi bukan murni karena keinginan kita atau salah kita. Itu karena pekerjaan kita. Kita tidak bisa menuntut banyak tentang itu, karena kita memiliki kontrak dan tidak bisa diganggu seenaknya. Aku harap kita sama-sama memahaminya,” terangnya.</p>

<p>“Aku sama sekali tidak melihat kamu memanfaatkanku. Kamu selalu menyempatkan waktu untuk meneleponku. Atau datang ke rumahku. Atau sekedar mengirim makanan ke tempat kerjaku. <em>And that’s enough for me. More than enough</em>. Aku memahami jadwal kita, pekerjaan kita, dan norma di sini. Kalau kamu bertanya apakah aku pernah muak? Ya aku pernah, Taeyeon. Tapi entahlah, aku pikir saat kita bisa bertemu semua kerinduan terbayar di sana. Kita sama-sama merelakan waktu istirahat, tapi itu impaskan? Aku tidak pernah merasa ada yang kurang, kita selalu berusaha memanfaatkan waktu itu dengan baik.”</p>

<p>“Jangan pernah berpikir lagi seperti itu. Dan cepat tidur! Awas konsermu besok gagal, jangan buat aku menyia-nyiakan waktuku untuk ikut <em>war</em> tiketmu.”</p>

<p>“<em>War</em>? Kamu membelinya? Bukannya aku sudah memberimu satu tiket?”</p>

<p>“Aku ingin melihat segila apa rumor itu. Dan memang benar, fans-mu sangat gila, Taeyeon. Hanya 1 detik dan tiket konsermu habis. Jadi jangan kecewakan mereka dan cepat tidur sekarang!”</p>

<p> “Ok. Satu pertanyaan lagi?”</p>

<p>Perempuan itu menghela napas, “baiklah.”</p>

<p>“Bagaimana jika kita bekerja bersama? Maksudku kamu bekerja denganku.”</p>

<p>“Jadi <em>stylist</em>-mu?” Taeyeon mengangguk antusias. “Kamu yakin? Akan mendengarkanku? Omelanku?”</p>

<p>“Seperti yang kamu bilang tadi, harus ada yang direlakan, tapi itu impas dengan pengorbanan.”</p>

<p>“Maksud kamu?!”</p>

<p>“Aku akan menguatkan telinga, mendengar omelanmu supaya kita punya banyak waktu bersama. Bagaimana?”</p>

<p>“Yah! Aku tak seburuk itu. Kamu saja yang bebal. Sekarang tidur Taeyeon, aku mohon. Jangan kecewakan fans-mu.”</p>

<p>Taeyeon masih tak puas, “tapi-”</p>

<p>“Tidur, Taeyeon. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Dan kalau konsermu gagal karena kamu mengantuk atau lupa lirik aku akan menyebarkan foto tidurmu dengan mulut terbuka.”</p>

<p>“Yah!”</p>

<p>“Tidur sekarang!”</p>

<p>“<em>Yes Mom</em>! Aku akan tidur sekarang. Jangan lupa untuk duduk di dekat keluargaku. <em>Bye boo</em>. Sampai jumpa besok.”</p>

<hr/>

<p>Dari sudut itu, dia berdiri dengan bangga saat melihat Taeyeon dengan sukses menutup konsernya malam ini. Tanpa ia sadari sudut matanya terasa basah begitu ia melihat perempuan mungil itu membungkuk di tengah panggung untuk mengakhiri konser malam ini. Dia tahu, jika perempuan itu merasa sangat beruntung memiliki penggemar sebesar ini. Dan dia tahu jika perempuan itu tak bisa menyampaikannya dengan kata-kata melainkan dengan satu gestur untuk menunjukkan perasaannya. Sesuatu yang membuat dia selalu kagum kepada Taeyeon.</p>

<p>Begitu konser benar-benar berakhir, dia pun segera pergi dari venue. Ingin pulang ke rumah dan berharap jika ia bisa menemui Taeyeon malam ini. Karena mungkin saja ada banyak acara yang harus Taeyeon lakukan setelah konser malam ini. Entahlah. Dia tak bertanya pada perempuan itu.</p>

<p>Dalam perjalanan pulang, dia menyempatkan untuk mengirim pesan kepada Taeyeon. Menanyakan apakah Taeyeon akan langsung pulang malam ini dan apakah dia bisa bertemu dengannya malam ini.
Lama perjalanan mungkin sekitar setengah jam. Dan selama itulah dia menunggu balasan Taeyeon. Balasan itu baru ia dapatkan saat dia sampai di depan lift apartemen.</p>

<p><em>Maaf, sepertinya keluargaku akan menginap. Besok kamu sibuk?</em></p>

<p>Dia mendesah. Selalu seperti ini. Namun dia tak bisa menyalahkan siapapun. Tidak juga Taeyeon.</p>

<p><em>Ya sudah, besok malam saja. Selamat istirahat, boo</em>. You’ve done so well. <em>Aku bangga padamu.</em></p>

<p><em>Thank you :</em> I really miss you*, Fany-ah. Sampai jumpa besok.</p>

<hr/>

<p>Suara TV seolah teredam saat kedua perempuan itu dengan bersemangat saling melumat bibir pasangannya. Ada banyak kerinduan dalam ciuman itu. Alih-laih nafsu. Sekalipun posisi mereka sama sekali tak mencerminkan kerinduan itu melainkan nafsu.
Tiffany menarik dirinya dari Taeyeon. Ia duduk di ujung sofa dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Dia menatap Taeyeon dengan tatapan tak terbaca. Sedang mencerna semua ucapan Taeyeon di sela sesi mereka.</p>

<p>“Tae, kenapa kamu masih memikirkannya? Aku pikir kita sama-sama paham itu resiko kesibukan kita.”</p>

<p>“Apa kamu tidak bosan?” tanya Taeyeon. Ia meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya. “Aw. Kenapa kamu harus menggigitku!”</p>

<p>“<em>You talk too much</em>!” protes Tiffany yang masih kesal.</p>

<p>“Dengar Tiffany, aku tidak akan kesana kalau kita tidak menyelesaikan masalah ini.”</p>

<p>“Aku tidak melihat itu sebagai masalah, Taeyeon.”</p>

<p>“Jangan berbohong!”</p>

<p>Taeyeon menarik pundak Tiffany yang menempel di sofa. Membuat perempuan itu untuk duduk dan menatapnya saat berbicara. “Kamu tidak bosan?”</p>

<p>“Kamu bosan?”</p>

<p>Taeyeon menghela nafas dengan kasar. “Tidak. Tapi aku melihat hubungan ini percuma. Gak ada bedanya dari sekedar teman, kecuali <em>we can taste each other</em>.”</p>

<p>“<em>What do you mean</em>?!” bentak Tiffany. “<em>We sacrifice a lot</em>, Taeyeon. <em>Just to make it work</em>. Dan kamu bilang kita cuma fwb?!”</p>

<p>“<em>Do you think so</em>?” Taeyeon menegakkan punggungnya dan mendekat ke Tiffany. “Sekarang aku bertanya, selama satu setengah tahun, sebanyak-banyaknya waktu yang kita habiskan bersama, seberapa banyak yang kamu tahu tentang aku? Apa yang kamu tahu tentang aku kecuali dari artikel di luar sana?”</p>

<p>Tiffany terbungkam. Dia juga memikirkan hal yang sama. Dia terkadang bingung jika Taeyeon yang ia temui adalah Taeyeon bukan Taeyeon seorang penyanyi besar. Atau itu sebaliknya. Dan dari semua itu…</p>

<p>“Aku merasa aku tidak terlalu mengenalmu, Fany-ah. Jangan bilang kita berteman selama lima tahun, lantas aku tahu semua tentangmu. Kita berubah di setiap harinya. Dan kita tak punya waktu lebih untuk bercerita. Saat pertemuan kita? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja jika dibandingkan waktu pertemuan kita?”</p>

<p>Tiffany menghela nafas. “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Itu resiko Taeyeon. Kita bisa mengenal perlahan-lahan.”</p>

<p>“Entahlah.”</p>

<p>“Well, jika waktu yang kita butuhkan, aku berencana untuk istirahat selama beberapa bulan ke depan dan hanya mengambil beberapa pekerjaan kecil. Jadi katakan apa yang bisa kita lakukan, aku akan menyesuaikan jadwalmu.”</p>

<p>Giliran Taeyeon yang terdiam. Ia memutar tubuhnya menghadap tv yang entah sedang menampilkan tontonan apa. Menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan kepalanya. Kedua tangannya bertautan dengan cemas.</p>

<p>“Ini salahku kan? Aku yang tidak bisa.”</p>

<p>“Taeyeon…” potong Tiffany, ia menggenggam tangan Taeyeon dengan kedua tangannya dan memaksa Taeyeon untuk menatap matanya. Hingga ia sadari jika tatapan Taeyeon terlihat sedih. “Jangan bilang begitu.”</p>

<p>“Di hubungan ini, aku pikir kamu yang terlalu banyak berkorban, Fany-ah. Maafkan aku. Apa itu masih membuatmu bahagia denganku?”</p>

<p>“Pertanyaan macam apa itu?” dia menarik tubuh Taeyeon ke dekapannya. “Kalau tidak, aku sudah lari dari dulu, Tae.”</p>

<p>“Tapi-”</p>

<p>“Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan? Jangan pikirkan itu mungkin atau tidak. Katakan saja. <em>We will figure it out</em>.”</p>

<p>“Kamu bahagia sama aku?”</p>

<p>“Aku sudah menjawabnya, Tae.”</p>

<p>Taeyeon menegakkan punggungnya dan menatap Tiffany.</p>

<p>“Jangan berbohong, Fany-ah. Aku tahu kamu menahan-”</p>

<p>“Fine. Ya! Aku mengakui itu berat. Aku membutuhkanmu tapi kamu benar-benar memberiku waktu dua hari kemudian. Hanya ngobrol saat kita akan tertidur dan sama-sama lelah. Ya, itu berat Taeyeon. Tapi aku bisa apa? Aku juga tidak berbeda jauh darimu, tidak bisa selalu ada untukmu.”</p>

<p>“<em>Then it won’t work, isn’t it</em>?” bisiknya.</p>

<p>Keduanya hanya terdiam. Taeyeon hanya mampu menatap meja tanpa sepatah katapun. It’s too good to be true. Pikirannya terlalu riuh untuk sekedar menyadari jika mata Tiffany mulai berair.</p>

<p>“Kamu ingin menyerah?” tanya Tiffany dengan suara bergetar.
Baru saat itulah Taeyeon menyadari jika Tiffany akan menangis, namun dia tak punya nyali untuk sekedar mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu kepada Tiffany.</p>

<p>“Aku… tidak tahu,” jawabnya lirih.</p>

<p>Dia tidak tahu apa keinginannya saat ini, karena pikirannya sekarang terpaku pada kebahagiaan Tiffany. Katakanlah itu klise, tapi dia menyadari jika menjadi dirinya bukan hal yang mudah. Semua orang tahu, idol sangat sulit untuk urusan berkencan. Bukan hanya masalah fans, norma, tapi waktu adalah satu masalah terbesar. Dan dia tidak ingin mengikat Tiffany untuk sesuatu yang melelahkan.</p>

<p>Mungkin yang ia rasakan sekarang adalah nyaman dengan Tiffany. Ah tidak juga. Dia merasa lebih hidup dengan Tiffany. Dia membutuhkan Tiffany yang totalitas mendukungnya. Nyaman saja tidak cukup untuk menggambarkan itu. Namun kembali lagi ke permasalahan ini, bukankah hubungan ini terlalu sulit untuk dikatakan berkencan? Karena berkencan sejauh yang Taeyeon tahu tidak seperti ini. Jika mereka tinggal di negara yang berbeda, mungkin Taeyeon akan memahami itu. Tapi ini… mereka tinggal di kota yang sama, namun terasa seperti mereka tinggal di negara yang berbeda tanpa ada jadwal yang cocok untuk bertemu.</p>

<p>Dalam diam Tiffany terus mencoba untuk mencari jalan. Dia juga menyayangkan jika hubungan ini akan berakhir. Bukan karena ia mengencani seorang Taeyeon si penyanyi besar, Diva Korea. Tapi ini karena Taeyeon adalah Taeyeon. Dia adalah <em>support system</em> utama baginya di saat ia tak benar-benar memiliki teman yang bisa ia percaya di Korea. Tidak juga dengan keluarga. Namun dengan Taeyeon, dia memiliki arti itu semua. Sekalipun waktu adalah penghalang bagi mereka. Tapi tetap saja <em>it’s worth to wait</em>.
Waktu…</p>

<p>Lagi-lagi Tiffany membuang nafasnya. Dia sendiri tahu tak mungkin untuk menuntut lebih dari Taeyeon. Karena dia terikat kontrak yang lebih kuat daripada dirinya. Dan jadwal Taeyeon yang entah mengapa sangat padat yang bisa membuat ia khawatir pada kesehatan perempuan itu.</p>

<p>Tiba-tiba teringat tentang tawaran yang Taeyeon katakan beberapa waktu yang lalu. “Kamu butuh <em>stylist</em> baru kan?”</p>

<p>Taeyeon mengangguk lemah.</p>

<p>“Baiklah aku bersedia.”</p>

<p>“Tapi kamu bilang kamu ingin istirahat. Makanya aku tidak bertanya lagi.”</p>

<p>“KIM TAEYEON!” bentak Tiffany yang membuat Taeyeon menatapnya kaget. “<em>Stop driving me crazy</em>.”</p>

<p>“Kamu sendiri yang bilang kalau ingin istirahat kan? Kamu merencanakannya dari akhir tahun kemarin.”</p>

<p>Dengan kesal Tiffany membuang nafasnya. “Aku tidak memahamimu. Kamu <em>selfless</em> tapi kamu batu. Sekali kamu memutuskan untuk percaya sesuatu kenapa harus sesulit itu untuk mengubahnya?”</p>

<p>“Aku salah? Aku hanya tidak mau kamu mengubah rencanamu karenaku. Kalau kamu bekerja denganku, itu artinya rencanamu akan tertunda. Tidak akan ada istirahat.”</p>

<p>“Lalu apa yang kamu inginkan? Apa yang aku harus lakukan? Aku hanya ingin mencobanya agar ini berhasil, Tae,” ucap Tiffany setengah gila. Dia benar-benar menekan emosinya untuk tidak meledak malam ini.</p>

<p>“Aku ingin kamu bahagia.”</p>

<p><em>See? Selfless</em> tapi batu, batin Tiffany.</p>

<p>“Lalu biarkan aku jadi <em>stylist</em>-mu. Kita akan punya jadwal yang sama, kita pergi bersama ke mana pun. <em>Problem solved</em>.”</p>

<p>“Kamu yakin tidak akan menyesal? Kamu tahu jadwalku kan, kamu tidak akan bisa beristirahat.”</p>

<p>“Ya! Jadi berhentilah berbicara dan terima itu!”</p>

<p>“Kamu yakin?”</p>

<p>“Kamu tidak?” suara Tiffany meninggi tidak sabar. “<em>We’re trying</em>, Taeyeon. Itu satu-satunya cara kita bertemu dan memperbaiki ini kalau kamu mau hubungan kita berlanjut.”</p>

<p>“<em>Of course I am</em>!”</p>

<p>“Bagus. Aku hanya akan bekerja untukmu dan meninggalkan pekerjaanku yang lain. Jadi terima aku mulai sekarang. Dan ingat Tae,” suara Tiffany mulai stabil dan lembut, “setiap hari kita akan bertemu. Ada dua kemungkinan, apakah hubungan ini akan tetap berjalan atau kita sama-sama muak. Jadi ingat satu permintaanku. Apapun keadaannya nanti, kita harus mencobanya dan jangan pikirkan apapun. Selalu katakan apa yang kamu mau. <em>Out loud, we will figure it out</em> dan berhenti menjadi <em>selfless</em> yang batu. <em>You literally drive me crazy</em>.”</p>

<p>Tak ada respon apapun dari Taeyeon kecuali senyum kecil yang coba ia sembunyikan. “<em>Clear</em>?”</p>

<p>“Ya… <em>clear</em>,” jawabnya dengan anggukan antusias. Karena sebetulnya ia menginginkan hal yang sama, namun dia tidak terlalu memaksa mengingat rencana Tiffany dari akhir tahun yang lalu. “Dan kamu juga harus berjanji untuk selalu katakan itu. Tidak memendam seperti sekarang. Paham?”</p>

<p>“<em>Ok. Deal</em>.”</p>

<p>“<em>Problem solved</em>. Sebagai balasannya, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Untuk hari ini saja. Apapun,” ucapnya yang merasa berhutang pada pacarnya sendiri.</p>

<p>“Bagus, Taeyeon.”</p>

<p>“Jadi apa yang kamu mau?”</p>

<p>“<em>Shut up and kiss me</em>, Taeyeon. Kamu merusak sesi kita tadi.”</p>

<p>Tanpa memberi waktu bagi Taeyeon untuk protes, Tiffany segera menubruk tubuh itu dan menekan Taeyeon ke sofa dengan agresif. Jelas, dengan senang hati Taeyeon tidak menolak. Justru dia sangat menyukai sisi agresif Tiffany. Walaupun terkadang tidak sesuai dengan suasana.</p>

<hr/>

<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist2" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist2</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:taeny" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">taeny</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist-j1hn</guid>
      <pubDate>Wed, 11 Aug 2021 13:04:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>THE COFFEE GIRL</title>
      <link>https://taengoori.writeas.com/the-coffee-girl?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#seulrene #oneshot #seulreneoneshot&#xA;&#xA;Baru satu bulan bekerja di perusahaan multinasional, Irene sudah terlihat seperti zombie berjalan. Jam tidurnya terpangkas sangat banyak. Terlebih karena jarak rumahnya yang jauh dari kantor sehingga dia harus berangkat lebih pagi dan pulang sangat larut. Maka jangan heran jika dia akan tertidur sebentar di subway atau membawa kopi saat dia keluar dari stasiun.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Seperti hari ini, dia turun dari subway dengan mata yang masih merah. Perempuan itu tertidur di subway, seperti biasa. Dan begitu kakinya melangkah, tujuan pertamanya adalah stand kopi yang berada di dekat tangga jalan keluar. Dia harus men-charge dirinya sebelum benar-benar bekerja hari ini.&#xA;&#xA;Dia membalas sapaan seorang barista yang terlihat lebih muda darinya dengan senyuman seraya menyebutkan pesanannya. “Satu coffee latte seperti biasa.” &#xA;&#xA;Hampir setiap hari Irene bertemu dengan barista itu. Mungkin tiga dari lima kali dalam seminggu. Dia sampai hafal dengan wajah barista itu. Terutama senyumnya ketika ia menyapa pembeli yang akan membuat matanya bersembunyi. Sangat ramah karena selalu menanyakan kabar Irene setiap kali ia mampir. Tapi yang paling Irene sukai adalah tulisannya di gelas kopi Irene. Tidak pernah ada tulisan yang hanya sekedar basa-basi.&#xA;&#xA;“Silahkan pesanannya, Irene-ssi,” ujarnya sambil menyerahkan satu gelas pesanan Irene. “Selamat menikmati, semoga ada kabar baik hari ini.”&#xA;&#xA;“Terima kasih! Kamu juga,” Irene mengambilnya dengan senyuman yang lebar sebelum berlalu keluar.&#xA;&#xA;Mari lihat apa yang dia tulis hari ini. &#xA;&#xA;Irene minggir sebentar setelah cukup jauh dari stand kopi itu. Hanya untuk melihat tulisan dari barista itu di gelasnya.&#xA;&#xA;Lelah ya? Bertahan sebentar. Kamu tau pelangi tidak muncul dg tiba-tiba kan?&#xA;&#xA;Irene sejenak terpekur memahami kalimat itu. Sebelum memutar tubuhnya ke arah barista itu yang sibuk melayani pelanggan. Memperhatikan barista itu sekali lagi dan mengingat figurnya dari samping sebelum berlalu. &#xA;&#xA;Betulkan? Dia selalu punya mantra baru lagi untuk mengawali harinya. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, Irene turun dari subway dengan nyawa yang tak terlalu penuh. Bedanya hari ini adrenalinnya sangat tinggi, karena nanti dia harus presentasi di depan petinggi untuk pertama kalinya. Dia yang masih minim pengalaman, bahkan nyaris tidak bisa tidur karena dia takut.&#xA;&#xA;&#34;Satu iced americano 4 shots,&#34; pesannya.&#xA;&#xA;Dia menangkap ekspresi barista itu yang terkejut melihatnya. Alisnya terangkat sempurna saat menatapnya. Iya, baru kali ini dia tidak memesan coffee latte.&#xA;&#xA;&#34;Semua baik-baik saja?&#34; lucunya barista itu bahkan juga bisa merasakan jika Irene sedang tidak baik-baik saja.&#xA;&#xA;Irene menggeleng kecil. Dia mendesah kecil sebelum menceritakan kegelisahannya. Beruntung bagi Irene karena stand itu masih cukup sepi. Sehingga mereka bisa bercakap dengan santai.&#xA;&#xA;Barista itu sudah seperti temannya sendiri. Bedanya mereka tidak berkenalan dengan formal, hanya sekedar tahu. Namun kenyamanan diantara keduanya justru jauh lebih baik dibandingkan kenyamanan yang Irene dapatkan dari teman kerja atau teman kuliahnya dulu.&#xA;&#xA;Dengan saksama barista itu mendengarkan setiap keluh kesah dari Irene. Tidak satupun kata-kata Irene yang dia lewatkan. Semua balasan yang barista itu katakan pun tidak sekedar basa-basi, dia benar-benar mendengarkan dan menenangkan Irene.&#xA;&#xA;&#34;Jangan terlalu sering underestimate diri sendiri. Aku tahu kamu dipilih bukan tanpa alasan,&#34; ucapnya meyakinkan Irene. &#34;Dari 5 pegawai baru di divisimu dan kamu yang dipilih? Berarti kamu jauh lebih baik dong daripada mereka?&#34;&#xA;&#xA;Dia tertegun sekali lagi. Tidak ada yang mengatakan kalimat itu dari kemarin. Kecuali menakut-nakutinya untuk siap dan tampil sempurna.&#xA;&#xA;Yang lebih membuatnya lebih tenang lagi adalah tatapan matanya yang teduh dan hangat saat mengatakannya. Serta senyuman yang tidak pernah hilang dari bibirnya yang mampu menyedot perhatian Irene.&#xA;&#xA;&#34;Iced americano 4 shots pesananmu, Irene-ssi,&#34; dia menyerahkannya. &#34;Good luck for you. Aku tunggu ceritamu besok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih, Seulgi-ssi. Semoga besok aku bisa bawa berita bagus. Bye. Have a nice day.&#34;&#xA;&#xA;Jelas yang dilakukan oleh Irene berikutnya setelah menjauh dari stand itu adalah melihat mantra yang tertulis di gelasnya. &#xA;&#xA;Aku tahu kamu pasti bisa melewatinya. Fighting! :))&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ada yang sedikit berbeda dengan hari ini. Dia tidak tertidur di subway, jelas itu sebuah kemajuan. Semua itu tak lepas dari dirinya yang tidak sabar untuk menceritakan presentasi kemarin ke Seulgi, barista yang sering ditemuinya.&#xA;&#xA;Dengan cepat dia bergegas menuju stand itu. Tinggal beberapa langkah saja, dia berhenti.&#xA;&#xA;Karena yang berdiri di sana bukan barista yang ingin ditemuinya. Melainkan laki-laki yang sepertinya jauh lebih muda lagi dari dirinya dan Seulgi. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, dia mendesah kecewa. Sekalipun dia tetap ke sana untuk memesan coffee latte.&#xA;&#xA;Seperti kebiasaannya, dia melihat sisi gelas itu. Hanya tulisan namanya dan ucapan have a good day yang basi. Tidak ada mantra untuk hari ini.&#xA;&#xA;Pun hari berikutnya yang masih sama saja. Dia juga tidak bertemu dengan barista itu. Hingga total 5 dari 5 kali ia ke sana dalam dua minggu, dia tidak bertemu lagi dengan perempuan itu.&#xA;&#xA;&#34;Barista yang sebelumnya keluar ya?&#34; &#xA;&#xA;Dia memaksakan kalimat itu keluar dari mulutnya walaupun dia tahu itu sangat tidak pantas untuk didengarkan barista lain. Dia tidak bermaksud membandingkan. Hanya ingin menagih janji perempuan itu untuk mendengar ceritanya yang sengaja dia simpan berminggu-minggu.&#xA;&#xA;&#34;Ah... iya. Dia sudah tidak di sini,&#34; jawab laki-laki itu, sama tak enaknya dengan Irene.&#xA;&#xA;Kecanggungan pun menyeruak di antara mereka. Dan Irene gagal menyembunyikan kekecewaannya dari laki-laki itu. Yang membuat barista itu akhirnya menanyakan kepadanya, &#34;ada apa ya? Mungkin saya bisa bantu sampaikan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh. Enggak. Jangan. Bukan apa-apa, kok. Hanya... bertanya saja. Saya kira ada pergantian jadwal,&#34; kilahnya.&#xA;&#xA;Begitu dia menerima pesanannya, dia bergegas pergi. Merutuki kebodohannya yang menanyakan hal tidak penting itu. Juga kebodohannya yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Sudahlah. Mungkin cerita baik itu memang harusnya Irene simpan sendiri. Tidak perlu orang lain untuk mendengarkan.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Hari-hari berlalu dengan sangat buruk. Panjang dan melelahkan. Tidak ada mantra pagi hari yang bisa membuat Irene bertahan hingga pekerjaannya usai setiap hari. Sama seperti hari ini.&#xA;&#xA;Irene menyandang tasnya dan berjalan gontai memasuki stasiun subway. Melewati stand itu dengan acuh. Sudah beberapa minggu setelah pertemuan terakhir mereka. Irene memang selalu ke sana setiap pagi, namun rasanya sama seperti kakinya yang otomatis melangkah ke stasiun ini. Tidak ada yang menarik. &#xA;&#xA;Tidak ada lagi mantra untuk paginya yang kusut. Tidak ada lagi suara ramah barista itu yang menyapanya setiap kali dia mampir. Makin hambar rasanya. &#xA;&#xA;Terlebih ketika dia masih memegang janji barista itu. Yang mengatakan akan mendengarkan ceritanya esok hari. Lantas kenyataannya? Perempuan itu pergi begitu saja. Sialan.&#xA;&#xA;Irene yang menatap kosong rel di hadapannya lantas tersadar saat telinganya menangkap suara kereta memasuki stasiun. Itu keretanya yang membawanya pulang pergi setiap hari.&#xA;&#xA;Dia menunggu gerombolan orang untuk keluar dari kereta sebelum berdesakan masuk. Jam pulang kerja tidak pernah ramah untuk siapapun seperti dirinya. Bahkan di kereta saja mereka harus berebut.&#xA;&#xA;Bahkan Irene masih harus berjalan di antara orang-orang yang berlalu lalang sebelum membidik satu kursi kosong.&#xA;&#xA;Sekian menit berselang, tubuh lelahnya itu akhirnya bisa duduk di salah satu kursi yang kosong di subway. Menyandarkan punggungnya ke dinding subway dan memejamkan matanya sebentar sampai kereta itu membawanya pulang.&#xA;&#xA;Dia bahkan tidak menyadari jika orang silih berganti di sekitarnya. Lebih tepatnya tidak peduli. Sampai seseorang menyentuh pundaknya dan seketika Irene terbangun.&#xA;&#xA;Dia menoleh ke sampingnya. Bersiap untuk menyembur siapapun itu. Sampai seseorang tersenyum sangat lebar sembari melihatnya. &#xA;&#xA;Rasanya waktu seperti berhenti saat matanya mengenali senyuman itu.&#xA;&#xA;&#34;Hai. Sudah lama gak ketemu. Apa kabar?&#34;&#xA;&#xA;Bahkan nada suaranya masih sama seperti berminggu-minggu yang lalu. Masih menyedot seluruh kesadaran Irene. &#xA;&#xA;Dari sekian banyak orang di kereta ini, dan dia yang ia temui sekarang? Menarik.&#xA;&#xA;&#34;Hai juga. Lama gak ketemu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:seulrene" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">seulrene</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:oneshot" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">oneshot</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:seulreneoneshot" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">seulreneoneshot</span></a></p>

<p>Baru satu bulan bekerja di perusahaan multinasional, Irene sudah terlihat seperti zombie berjalan. Jam tidurnya terpangkas sangat banyak. Terlebih karena jarak rumahnya yang jauh dari kantor sehingga dia harus berangkat lebih pagi dan pulang sangat larut. Maka jangan heran jika dia akan tertidur sebentar di <em>subway</em> atau membawa kopi saat dia keluar dari stasiun.
</p>

<p>Seperti hari ini, dia turun dari <em>subway</em> dengan mata yang masih merah. Perempuan itu tertidur di <em>subway</em>, seperti biasa. Dan begitu kakinya melangkah, tujuan pertamanya adalah <em>stand</em> kopi yang berada di dekat tangga jalan keluar. Dia harus men-<em>charge</em> dirinya sebelum benar-benar bekerja hari ini.</p>

<p>Dia membalas sapaan seorang barista yang terlihat lebih muda darinya dengan senyuman seraya menyebutkan pesanannya. “Satu <em>coffee latte</em> seperti biasa.”</p>

<p>Hampir setiap hari Irene bertemu dengan barista itu. Mungkin tiga dari lima kali dalam seminggu. Dia sampai hafal dengan wajah barista itu. Terutama senyumnya ketika ia menyapa pembeli yang akan membuat matanya bersembunyi. Sangat ramah karena selalu menanyakan kabar Irene setiap kali ia mampir. Tapi yang paling Irene sukai adalah tulisannya di gelas kopi Irene. Tidak pernah ada tulisan yang hanya sekedar basa-basi.</p>

<p>“Silahkan pesanannya, Irene-ssi,” ujarnya sambil menyerahkan satu gelas pesanan Irene. “Selamat menikmati, semoga ada kabar baik hari ini.”</p>

<p>“Terima kasih! Kamu juga,” Irene mengambilnya dengan senyuman yang lebar sebelum berlalu keluar.</p>

<p>Mari lihat apa yang dia tulis hari ini.</p>

<p>Irene minggir sebentar setelah cukup jauh dari <em>stand</em> kopi itu. Hanya untuk melihat tulisan dari barista itu di gelasnya.</p>

<p><em>Lelah ya? Bertahan sebentar. Kamu tau pelangi tidak muncul dg tiba-tiba kan?</em></p>

<p>Irene sejenak terpekur memahami kalimat itu. Sebelum memutar tubuhnya ke arah barista itu yang sibuk melayani pelanggan. Memperhatikan barista itu sekali lagi dan mengingat figurnya dari samping sebelum berlalu.</p>

<p><em>Betulkan?</em> Dia selalu punya mantra baru lagi untuk mengawali harinya.</p>

<hr/>

<p>Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, Irene turun dari <em>subway</em> dengan nyawa yang tak terlalu penuh. Bedanya hari ini adrenalinnya sangat tinggi, karena nanti dia harus presentasi di depan petinggi untuk pertama kalinya. Dia yang masih minim pengalaman, bahkan nyaris tidak bisa tidur karena dia takut.</p>

<p>“Satu <em>iced americano 4 shots</em>,” pesannya.</p>

<p>Dia menangkap ekspresi barista itu yang terkejut melihatnya. Alisnya terangkat sempurna saat menatapnya. Iya, baru kali ini dia tidak memesan <em>coffee latte</em>.</p>

<p>“Semua baik-baik saja?” lucunya barista itu bahkan juga bisa merasakan jika Irene sedang tidak baik-baik saja.</p>

<p>Irene menggeleng kecil. Dia mendesah kecil sebelum menceritakan kegelisahannya. Beruntung bagi Irene karena <em>stand</em> itu masih cukup sepi. Sehingga mereka bisa bercakap dengan santai.</p>

<p>Barista itu sudah seperti temannya sendiri. Bedanya mereka tidak berkenalan dengan formal, hanya sekedar tahu. Namun kenyamanan diantara keduanya justru jauh lebih baik dibandingkan kenyamanan yang Irene dapatkan dari teman kerja atau teman kuliahnya dulu.</p>

<p>Dengan saksama barista itu mendengarkan setiap keluh kesah dari Irene. Tidak satupun kata-kata Irene yang dia lewatkan. Semua balasan yang barista itu katakan pun tidak sekedar basa-basi, dia benar-benar mendengarkan dan menenangkan Irene.</p>

<p>“Jangan terlalu sering <em>underestimate</em> diri sendiri. Aku tahu kamu dipilih bukan tanpa alasan,” ucapnya meyakinkan Irene. “Dari 5 pegawai baru di divisimu dan kamu yang dipilih? Berarti kamu jauh lebih baik dong daripada mereka?”</p>

<p>Dia tertegun sekali lagi. Tidak ada yang mengatakan kalimat itu dari kemarin. Kecuali menakut-nakutinya untuk siap dan tampil sempurna.</p>

<p>Yang lebih membuatnya lebih tenang lagi adalah tatapan matanya yang teduh dan hangat saat mengatakannya. Serta senyuman yang tidak pernah hilang dari bibirnya yang mampu menyedot perhatian Irene.</p>

<p>“<em>Iced americano 4 shots</em> pesananmu, Irene-ssi,” dia menyerahkannya. “<em>Good luck for you</em>. Aku tunggu ceritamu besok.”</p>

<p>“Terima kasih, Seulgi-ssi. Semoga besok aku bisa bawa berita bagus. <em>Bye. Have a nice day</em>.”</p>

<p>Jelas yang dilakukan oleh Irene berikutnya setelah menjauh dari <em>stand</em> itu adalah melihat mantra yang tertulis di gelasnya.</p>

<p><em>Aku tahu kamu pasti bisa melewatinya. Fighting! :))</em></p>

<hr/>

<p>Ada yang sedikit berbeda dengan hari ini. Dia tidak tertidur di <em>subway</em>, jelas itu sebuah kemajuan. Semua itu tak lepas dari dirinya yang tidak sabar untuk menceritakan presentasi kemarin ke Seulgi, barista yang sering ditemuinya.</p>

<p>Dengan cepat dia bergegas menuju <em>stand</em> itu. Tinggal beberapa langkah saja, dia berhenti.</p>

<p>Karena yang berdiri di sana bukan barista yang ingin ditemuinya. Melainkan laki-laki yang sepertinya jauh lebih muda lagi dari dirinya dan Seulgi.</p>

<p>Tanpa sadar, dia mendesah kecewa. Sekalipun dia tetap ke sana untuk memesan <em>coffee latte</em>.</p>

<p>Seperti kebiasaannya, dia melihat sisi gelas itu. Hanya tulisan namanya dan ucapan <em>have a good day</em> yang basi. Tidak ada mantra untuk hari ini.</p>

<p>Pun hari berikutnya yang masih sama saja. Dia juga tidak bertemu dengan barista itu. Hingga total 5 dari 5 kali ia ke sana dalam dua minggu, dia tidak bertemu lagi dengan perempuan itu.</p>

<p>“Barista yang sebelumnya keluar ya?”</p>

<p>Dia memaksakan kalimat itu keluar dari mulutnya walaupun dia tahu itu sangat tidak pantas untuk didengarkan barista lain. Dia tidak bermaksud membandingkan. Hanya ingin menagih janji perempuan itu untuk mendengar ceritanya yang sengaja dia simpan berminggu-minggu.</p>

<p>“Ah... iya. Dia sudah tidak di sini,” jawab laki-laki itu, sama tak enaknya dengan Irene.</p>

<p>Kecanggungan pun menyeruak di antara mereka. Dan Irene gagal menyembunyikan kekecewaannya dari laki-laki itu. Yang membuat barista itu akhirnya menanyakan kepadanya, “ada apa ya? Mungkin saya bisa bantu sampaikan.”</p>

<p>“Oh. Enggak. Jangan. Bukan apa-apa, kok. Hanya... bertanya saja. Saya kira ada pergantian jadwal,” kilahnya.</p>

<p>Begitu dia menerima pesanannya, dia bergegas pergi. Merutuki kebodohannya yang menanyakan hal tidak penting itu. Juga kebodohannya yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.</p>

<p>Sudahlah. Mungkin cerita baik itu memang harusnya Irene simpan sendiri. Tidak perlu orang lain untuk mendengarkan.</p>

<hr/>

<p>Hari-hari berlalu dengan sangat buruk. Panjang dan melelahkan. Tidak ada mantra pagi hari yang bisa membuat Irene bertahan hingga pekerjaannya usai setiap hari. Sama seperti hari ini.</p>

<p>Irene menyandang tasnya dan berjalan gontai memasuki stasiun <em>subway</em>. Melewati <em>stand</em> itu dengan acuh. Sudah beberapa minggu setelah pertemuan terakhir mereka. Irene memang selalu ke sana setiap pagi, namun rasanya sama seperti kakinya yang otomatis melangkah ke stasiun ini. Tidak ada yang menarik.</p>

<p>Tidak ada lagi mantra untuk paginya yang kusut. Tidak ada lagi suara ramah barista itu yang menyapanya setiap kali dia mampir. Makin hambar rasanya.</p>

<p>Terlebih ketika dia masih memegang janji barista itu. Yang mengatakan akan mendengarkan ceritanya esok hari. Lantas kenyataannya? Perempuan itu pergi begitu saja. Sialan.</p>

<p>Irene yang menatap kosong rel di hadapannya lantas tersadar saat telinganya menangkap suara kereta memasuki stasiun. Itu keretanya yang membawanya pulang pergi setiap hari.</p>

<p>Dia menunggu gerombolan orang untuk keluar dari kereta sebelum berdesakan masuk. Jam pulang kerja tidak pernah ramah untuk siapapun seperti dirinya. Bahkan di kereta saja mereka harus berebut.</p>

<p>Bahkan Irene masih harus berjalan di antara orang-orang yang berlalu lalang sebelum membidik satu kursi kosong.</p>

<p>Sekian menit berselang, tubuh lelahnya itu akhirnya bisa duduk di salah satu kursi yang kosong di <em>subway</em>. Menyandarkan punggungnya ke dinding <em>subway</em> dan memejamkan matanya sebentar sampai kereta itu membawanya pulang.</p>

<p>Dia bahkan tidak menyadari jika orang silih berganti di sekitarnya. Lebih tepatnya tidak peduli. Sampai seseorang menyentuh pundaknya dan seketika Irene terbangun.</p>

<p>Dia menoleh ke sampingnya. Bersiap untuk menyembur siapapun itu. Sampai seseorang tersenyum sangat lebar sembari melihatnya.</p>

<p>Rasanya waktu seperti berhenti saat matanya mengenali senyuman itu.</p>

<p>“Hai. Sudah lama gak ketemu. Apa kabar?”</p>

<p>Bahkan nada suaranya masih sama seperti berminggu-minggu yang lalu. Masih menyedot seluruh kesadaran Irene.</p>

<p>Dari sekian banyak orang di kereta ini, dan dia yang ia temui sekarang? Menarik.</p>

<p>“Hai juga. Lama gak ketemu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://taengoori.writeas.com/the-coffee-girl</guid>
      <pubDate>Tue, 03 Aug 2021 06:50:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>DIVA STYLIST</title>
      <link>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#divastylist #snsd #divastylist1&#xA;&#xA;Part 1&#xA;&#xA;Taeyeon memperhatikan seorang perempuan dengan perut membesar di sudut ruangan. Perempuan itu sedang memejamkan matanya dan sangat terlihat jika dia lelah. Pembuatan MV hari ini memang cukup panjang, hampir enam jam mereka di lokasi, dan masih tersisa kurang lebih dua jam sebelum mereka merampungkan pekerjaan hari ini.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;“Apa aku harus berganti baju lagi?” tanya Taeyeon pada manajernya.&#xA;&#xA;“Iya, masih ada satu konsep lagi untuk video dan photoshoot.”&#xA;Taeyeon hanya menghela nafasnya.&#xA;&#xA;“Mereka masih menyiapkan set, jadi kamu punya setengah jam untuk beristirahat, Taeyeon,” sambung manajernya.&#xA;&#xA;Taeyeon mengangguk. “Unnie, apa tempat ini hanya ada satu sofa?”&#xA;&#xA;“Betul.”&#xA;&#xA;“Ada kursi kecil untuk menopang kaki?”&#xA;&#xA;“Kenapa? Kamu membutuhkannya?” &#xA;&#xA;“Bukan aku, tapi Sung Hyo Unnie.”&#xA;&#xA;Manajer itu mengikuti arah mata Taeyeon ke sudut ruangan, tempat Sung Hyo sedang beristirahat. Sung Hyo tertidur dengan kaki yang menggantung dan kepala yang bersandar pada punggung sofa.&#xA;&#xA;“Aku mengkhawatirkannya.”&#xA;&#xA;Min Ji mengangguk, “baiklah, aku akan mencarikannya. Ada lagi yang kamu perlukan?”&#xA;&#xA;“Tidak ada. Carikan kursi untuk dia dan kalau bisa bantal untuk punggungnya.”&#xA;&#xA;Minji mengangguk, dia menunggu Taeyeon berbaring di sofa itu. Meringkuk dan segera memejamkan matanya begitu kepalanya menyentuh bantal. Ia memakaikan selimut di tubuh mungil Taeyeon sebelum berlalu untuk mencari kursi dan bantal untuk Sung Hyo, stylist Taeyeon yang sedang hamil empat bulan.&#xA;----&#xA;Taeyeon membuka pintu apartemennya. Menendang sepatunya sembarangan sebelum melangkah limbung menuju kamarnya. Tubuhnya terasa seperti selesai triathlon. Sangat lelah dan sangat ingin tenggelam di kasur tanpa peduli untuk mandi. Oke itu jorok, mungkin hanya menghapus make up yang masih menempel dan mengganti pakaiannya sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur.&#xA;&#xA;Tanpa peduli dengan kegelapan, Taeyeon terus berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu kamar yang juga menampakkan kegelapan, sama seperti sepanjang ruangan yang telah ia lewati. Dia melempar tasnya di lantai, hendak berjalan menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti saat menyadari ia mencium parfum seseorang yang tak asing baginya.&#xA;&#xA;Matanya menyipit, mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Taeyeon menangkap sebuah bayangan perempuan yang sedang duduk di ujung kasurnya. Ia juga mendengar dengusan dari perempuan itu. Tanpa pikir panjang, Taeyeon menepuk tangannya satu kali untuk menyalakan lampu dan segera melempar tubuhnya ke tubuh perempuan itu hingga berhasil menindih perempuan itu.&#xA;&#xA;“Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?” tanyanya. Ia membenamkan wajahnya di rambut perempuan itu.&#xA;&#xA;Perempuan itu terkekeh. Tangannya melingkar di punggung Taeyeon dan memeluknya erat-erat. “Hai juga, Taeyeon. Aku merindukanmu.”&#xA;&#xA;Taeyeon ikut terkekeh. Ia menarik tubuhnya sedikit, menopang dengan dua tangannya hingga ia bisa melihat wajah perempuan yang sudah dua minggu tidak ia temui.&#xA;&#xA;“Aku juga merindukanmu,” ucapnya lembut. “Bagaimana Milan? Semua berjalan lancar?” &#xA;&#xA;Perempuan itu mengangguk jenaka dan memperlihatkan garis senyum yang sangat indah di mata Taeyeon.&#xA;&#xA;“That was great,” tangannya meraih rambut yang menutupi wajah Taeyeon, menyibaknya hingga ia dapat melihat lebih wajah Taeyeon jelas lagi. “Lelah?”&#xA;&#xA;“Tergantung.”&#xA;&#xA;“Maksud kamu?” ia kembali terkekeh, dia tahu kemana arah pembicaraan itu.&#xA;&#xA;“Kamu lebih tahu daripada aku,” jawabnya hingga mendapat pukulan dari perempuan itu. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir perempuan itu.&#xA;&#xA;“Mana oleh-olehku?”&#xA;&#xA;“Besok, ok?”&#xA;&#xA;Taeyeon menarik tubuhnya hingga duduk di paha perempuan itu. Ia menggeleng dengan bibir cemberut seperti anak kecil.&#xA;&#xA;“Aku tahu kamu lelah dan aku juga, Taeyeon. Jet lag sucks.”&#xA;&#xA;“Apalagi besok?”&#xA;&#xA;“You have me for a whole day.”&#xA;&#xA;“Serius?”&#xA;&#xA;“Selama kamu gak ada schedule.”&#xA;&#xA;Wajah Taeyeon semakin masam. Ia mulai merengek seperti anak kecil yang meminta lolipop kepada ibunya. Karena ia tahu jika besok ia harus ke agensi untuk mempersiapkan promosi single terbarunya, bertemu dengan orang ini itu dan- omong kosong ‘you have me for a whole day’.  &#xA;&#xA;“Sekarang, please?” pintanya dengan memelas.&#xA;&#xA;“Tae, you’re a Korean Diva. Don’t act like a five!”&#xA;&#xA;“Siapa yang bilang Korean Diva?”&#xA;&#xA;“Some articles say so,” perempuan itu duduk dengan Taeyeon di pangkuannya. Beradu tatap dengan Taeyeon.  “Besok, ok? Aku juga belum bongkar koperku.”&#xA;&#xA;Taeyeon masih cemberut dengan kening yang mengerut yang membuat perempuan itu terkekeh dan mengecup bibir Taeyeon dengan gemas.&#xA;&#xA;“Kamu bilang besok.”&#xA;&#xA;“Aku hanya mengecup, Taeyeon,” ucapnya sembari terus mengecup bibir Taeyeon. “Kamu bau sekali, Tae. Kamu belum mandi dari pagi?”&#xA;&#xA;“Bau?!” ucap Taeyeon tersinggung “Yah! Mana ada Korean Diva bau?! Jangan coba-coba sebarkan rumor palsu seperti itu. Aku bisa menuntutmu.”&#xA;&#xA;Perempuan itu terbahak-bahak mendengar rentetan omelan Taeyeon. Ia hendak memeluk tubuh mungil Taeyeon lagi namun ditepis oleh Taeyeon.&#xA;&#xA;“Minggir! Korean Diva mau mandi!”&#xA;&#xA;Taeyeon melangkah turun dari pangkuan perempuan itu dan segera berlalu menuju kamar mandi dengan wajah bersungut.&#xA;&#xA;“Oh my god, seriously I’m dating a five-years-old.”&#xA;&#xA;“Yah. Aku mendengarmu!”&#xA;&#xA;“Don’t yah at me!”&#xA;&#xA;&#34;Yah! Yah! Yah!&#34;&#xA;-----&#xA;Tepat saat jam makan siang, Taeyeon keluar dari apartemen untuk mencari makan dan berlanjut menuju agensi. Namun sepertinya dia harus kembali ke apartemen untuk membawakan makanan untuk perempuan yang sekarang sedang tertidur pulas di kamarnya. Dia yakin jika perempuan itu tak akan bangun hingga malam nanti, tapi tak ada salahnya kan membawakannya makanan.&#xA;&#xA;Ponsel Taeyeon berdering saat ia hendak melangkah keluar dari apartemen. Sung Hyo Unnie. Ia pun mengangkat telepon itu. &#xA;&#xA;“Hallo, Unnie… ah tidak, aku tidak sedang sibuk sekarang…. Makan siang? Ok, kebetulan aku akan mencari makan siang. Kalau Unnie tidak keberatan kita bisa bertemu di sana… Ok. sampai bertemu di sana.”&#xA;&#xA;Hanya perlu sekitar lima belas menit untuk sampai di sebuah restoran masakan korea. Dengan topi dan masker ia berjalan masuk sendirian. Menuju meja yang ia pesan di sudut restoran yang sepi. Dia menghindari orang-orang bahkan saat ia makan di tempat sekelas restoran ini, yang tak sembarang orang akan memilih untuk makan siang di tempat ini. &#xA;&#xA;Taeyeon adalah Taeyeon. Dia terbiasa melakukan apapun sendirian. Bahkan makan di tempat ini pun dia sendirian. Tidak dengan manajer ataupun pacarnya. Dia lebih menyukai pergi sendirian dan melakukan pekerjaan kecil di sudut restoran hingga ia merasa cukup sebelum kembali bertemu dengan orang-orang. Soul charging. Mungkin itu yang ia lakukan saat sendirian. Karena sebetulnya dia tidak terlalu menyukai sesuatu yang mengharuskan ia bertemu dengan banyak orang kecuali karena pekerjaan. Fans sendiri terkadang terlalu melelahkan untuk ia atasi. Walaupun cukup sering dia melakukan streaming dadakan untuk menyapa mereka. Tapi sebetulnya itu terjadwal. Tidak serta merta hanya karena dia ingin, karena dia tak sesosial itu.&#xA;&#xA;Ah iya.. Sung Hyo Unnie. Dia hampir lupa dengan stylist-nya. Taeyeon akhirnya memilih untuk memesan minuman saja hingga Sung Hyo datang.&#xA;&#xA;Beruntung bagi Taeyeon karena Sung Hyo datang tak lama setelah pelayan mengantar minumannya. Ia melambaikan tangan kepada Sung Hyo yang tersenyum lebar ke arahnya.&#xA;&#xA;“Apa aku terlalu lama?”&#xA;&#xA;“Tidak. Duduklah Unnie,” Taeyeon membantu menarik kursi untuk Sung Hyo.&#xA;&#xA;“Kamu perhatian sekali, Taeyeon. Lama-lama aku bisa lari dari suamiku,” celetuknya yang membuat keduanya tertawa. &#xA;&#xA;“Baru dari agensi?”&#xA;&#xA;Taeyeon menggeleng, “dari rumah. Hari ini aku cukup luang.” Karena aku membatalkan banyak jadwal.&#xA;&#xA;“Ah… Kamu pasti terlalu lelah karena kemarin.”&#xA;&#xA;Taeyeon mengangguk menyetujui, walaupun sebetulnya dia lelah karena alasan lain. “Unnie bagaimana? Jangan terlalu sibuk, aku khawatir dengan bayimu.”&#xA;&#xA;Ucapan itu membuat Sung Hyo semakin tersanjung. “Taeyeon-ah, bahkan kamu lebih perhatian dari suamiku. Sekali lagi kamu berkata sesuatu sepertinya aku akan menyesal karena menikahi suamiku.”&#xA;&#xA;“Hey! Aku tidak mengatakannya untuk merusak pernikahanmu, Unnie. Jangan bercanda.”&#xA;&#xA;Obrolan mereka terhenti saat pelayan kembali datang ke meja itu. Mereka memilih beberapa menu makan siang yang menjadi andalan di tempat ini. Sebelum kembali melanjutkan obrolan ringan.&#xA;&#xA;“Taeyeon-ah, sebetulnya ada yang ingin aku sampaikan.” Sung Hyo menaruh tisu yang ia pakai untuk membersihkan sudut bibirnya. &#xA;Semua piring pesanan mereka bersih tanpa sisa. &#xA;&#xA;“Apa Unnie?”&#xA;&#xA;Taeyeon melihat Sung Hyo yang terlihat menatap meja dengan wajah yang serius. Dengan sabar ia menunggu perempuan itu kembali bersuara.&#xA;&#xA;“Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu lagi, Taeyeon,” ucapnya berhati-hati. “Aku tahu ini sangat gila. Maksudku, sebentar lagi single-mu akan keluar dan banyak promosi yang harus dilakukan. Tapi aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan sanggup jika harus ke luar negeri lagi, Tae. Konser di Singapura kemarin sepertinya yang terakhir,” ucap Sung Hyo merujuk satu variety show yang akan Taeyeon lakukan di dua negara Eropa.&#xA;&#xA;Taeyeon sangat memahami itu. Terlebih dengan perut Sung Hyo yang semakin membesar, rasanya akan berat jika harus membawa Sung Hyo di setiap kegiatannya yang akan datang. &#xA;&#xA;“Aku memahaminya, Unnie. Santailah, jangan terlalu tegang seperti itu. Lagipula single-ku akan keluar dua bulan lagi, masih ada cukup waktu untuk mencari stylist yang bisa membantuku.”&#xA;&#xA;“Ah tentang itu, aku sudah punya daftar stylist yang bisa membantumu di bulan-bulan itu. Bukan hanya dari latar belakang dan jadwalnya tapi juga dari personalnya. Aku mengenal mereka, dan aku pikir mereka akan cocok denganmu.”&#xA;&#xA;Sung Hyo mengeluarkan tabletnya. Dia membuka dokumen berisi daftar stylist yang akan menggantikannya. “Coba lihat ini,” dia menyerahkan tablet itu ke Taeyeon. Dia menjelaskan semua stylist di daftar itu dengan gamblang kepada Taeyeon.&#xA;&#xA;“Yang terakhir, Tiffany Young. Dia pernah bekerja dengan banyak idol di Korea. Dan satu yang jelas, dia pernah bekerja di Hollywood selama satu tahun. Semua orang yang pernah bekerja dengan dia sangat menyukainya karena dia tidak pernah memaksakan seleranya untuk orang lain. Melainkan benar-benar melihat yang terbaik dari preferensi klien.”&#xA; &#xA;“Unnie, bagaimana Unnie menyiapkan ini semua?” ia menaruh tablet itu di meja lantas menatap Sung Hyo dengan mata membulat. “Unnie, tolong jangan terlalu lelah, aku sangat mengkhawatirkan bayimu. Aku tidak bercanda,” yakinnya. “Aku punya banyak orang, Unnie. Mereka bisa membantuku. Stylist dari agensi juga banyak yang bagus. Tolong jangan bekerja terlalu keras.”&#xA;&#xA;Sung Hyo terkekeh. “Aku hanya hamil, Taeyeon, tidak sakit parah. Jangan memperlakukanku seperti kaca yang mudah pecah.”&#xA;&#xA;“Hey… tetap saja, Unni,” sanggahnya. “Tapi… Unnie akan kembali setelah bayimu lahir kan?”&#xA;&#xA;Wajah Sung Hyo mendadak kaku. Dia tersenyum getir ke arah Taeyeon. &#xA;&#xA;“Serius?”&#xA;&#xA;“Maaf, Taeyeon. Tapi kita bisa bertemu di luar pekerjaan kan?”&#xA;&#xA;“Harus. Pastikan kita bisa minum bersama setelah bayimu lahir.”&#xA;&#xA;“Baiklah. Aku book satu slot jadwalmu untuk enam bulan lagi.”&#xA;&#xA;“Call!”&#xA;&#xA;Mereka tertawa bersama. Taeyeon selalu menjadi sosok yang hangat walaupun terkadang dia menjadi sosok yang sangat canggung di depan banyak orang.&#xA;&#xA;“Ah… dari semua daftar ini, siapa yang Unnie rekomendasikan?”&#xA;&#xA;Wajah Sung Hyo kembali serius. Dia mengambil kembali tabletnya untuk melihat nama-nama di daftar itu. “Aku pikir Tiffany akan menjadi yang pertama. Sense dalam fashion-nya tidak bisa diragukan. Kamu bisa lihat dari klien yang sudah bekerja sama dengannya. Dia juga sangat ramah Taeyeon, bisa menempatkan dirinya dan aku pikir kalian akan cocok.”&#xA;&#xA;&#34;Aku juga akan memastikan sekali lagi jika jadwalnya tidak bentrok denganmu.&#34;&#xA;&#xA;Taeyeon terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna semua penjelasan Sung Hyo tentang stylist itu. Dalam hatinya, dia memang tertarik untuk mengajaknya bekerja sama dengan berbagai pertimbangan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dan dengan pertimbangan yang ruwet di kepalanya, sedetik kemudian dia meragu. Atau lebih baik dia memilih stylist lain? Sepertinya mereka akan cocok di urusan lain.&#xA;------&#xA;Taeyeon kembali ke apartemen dengan kantong penuh dengan makanan. Dia menaruhnya di meja makan. Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu untuk di tempel di atas kantong itu. &#xA;&#xA;Lantas ia beralih untuk mengambil suplemen yang bisa mengembalikan tenaga perempuan itu. Dia tahu jika perempuan itu sangat lelah dan pekerjaannya hanya mengizinkan dia untuk beristirahat selama sehari. Semakin cepat ia pulih, akan semakin baik.&#xA;&#xA;Sebelum kembali pergi, Taeyeon menyempatkan waktunya untuk mengintip perempuan itu di kamar. Menarik selimut hingga menutupi bahu perempuan itu dan memastikan suhu di kamar cukup nyaman untuk perempuan itu. &#xA;&#xA;Dia memandang perempuan itu yang tertidur pulas. Perempuan itu akhirnya membayar hutang tidurnya setelah pekerjaannya di Milan selama dua minggu serta kemarin malam saat dia merelakan istirahatnya untuk mendengar semua keresahan Taeyeon. Harus Taeyeon akui, dia sangat beruntung mendapatkan perempuan itu. &#xA;Seseorang yang sangat memahami dia, pekerjaannya, dan resiko saat menjadi kekasihnya. Bertahan cukup lama tanpa banyak mengeluh. &#xA;&#xA;Sayangnya Taeyeon tidak bisa membanggakannya di depan semua orang. Mereka harus berkencan dalam diam, mengingat pekerjaan Taeyeon yang sangat tidak mendukung urusan itu. Dan juga norma.&#xA;Setelah puas, Taeyeon membungkuk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu dengan lembut. Berpamitan untuk melanjutkan kesibukannya.&#xA;&#xA;“Aku pergi dulu. I love you.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;#divastylist #snsd #divastylist1 #taeny]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist1" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist1</span></a></p>

<p><strong>Part 1</strong></p>

<p>Taeyeon memperhatikan seorang perempuan dengan perut membesar di sudut ruangan. Perempuan itu sedang memejamkan matanya dan sangat terlihat jika dia lelah. Pembuatan MV hari ini memang cukup panjang, hampir enam jam mereka di lokasi, dan masih tersisa kurang lebih dua jam sebelum mereka merampungkan pekerjaan hari ini.
</p>

<p>“Apa aku harus berganti baju lagi?” tanya Taeyeon pada manajernya.</p>

<p>“Iya, masih ada satu konsep lagi untuk video dan <em>photoshoot</em>.”
Taeyeon hanya menghela nafasnya.</p>

<p>“Mereka masih menyiapkan set, jadi kamu punya setengah jam untuk beristirahat, Taeyeon,” sambung manajernya.</p>

<p>Taeyeon mengangguk. “Unnie, apa tempat ini hanya ada satu sofa?”</p>

<p>“Betul.”</p>

<p>“Ada kursi kecil untuk menopang kaki?”</p>

<p>“Kenapa? Kamu membutuhkannya?”</p>

<p>“Bukan aku, tapi Sung Hyo Unnie.”</p>

<p>Manajer itu mengikuti arah mata Taeyeon ke sudut ruangan, tempat Sung Hyo sedang beristirahat. Sung Hyo tertidur dengan kaki yang menggantung dan kepala yang bersandar pada punggung sofa.</p>

<p>“Aku mengkhawatirkannya.”</p>

<p>Min Ji mengangguk, “baiklah, aku akan mencarikannya. Ada lagi yang kamu perlukan?”</p>

<p>“Tidak ada. Carikan kursi untuk dia dan kalau bisa bantal untuk punggungnya.”</p>

<p>Minji mengangguk, dia menunggu Taeyeon berbaring di sofa itu. Meringkuk dan segera memejamkan matanya begitu kepalanya menyentuh bantal. Ia memakaikan selimut di tubuh mungil Taeyeon sebelum berlalu untuk mencari kursi dan bantal untuk Sung Hyo, <em>stylist</em> Taeyeon yang sedang hamil empat bulan.</p>

<hr/>

<p>Taeyeon membuka pintu apartemennya. Menendang sepatunya sembarangan sebelum melangkah limbung menuju kamarnya. Tubuhnya terasa seperti selesai triathlon. Sangat lelah dan sangat ingin tenggelam di kasur tanpa peduli untuk mandi. Oke itu jorok, mungkin hanya menghapus make up yang masih menempel dan mengganti pakaiannya sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur.</p>

<p>Tanpa peduli dengan kegelapan, Taeyeon terus berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu kamar yang juga menampakkan kegelapan, sama seperti sepanjang ruangan yang telah ia lewati. Dia melempar tasnya di lantai, hendak berjalan menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti saat menyadari ia mencium parfum seseorang yang tak asing baginya.</p>

<p>Matanya menyipit, mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Taeyeon menangkap sebuah bayangan perempuan yang sedang duduk di ujung kasurnya. Ia juga mendengar dengusan dari perempuan itu. Tanpa pikir panjang, Taeyeon menepuk tangannya satu kali untuk menyalakan lampu dan segera melempar tubuhnya ke tubuh perempuan itu hingga berhasil menindih perempuan itu.</p>

<p>“Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?” tanyanya. Ia membenamkan wajahnya di rambut perempuan itu.</p>

<p>Perempuan itu terkekeh. Tangannya melingkar di punggung Taeyeon dan memeluknya erat-erat. “Hai juga, Taeyeon. Aku merindukanmu.”</p>

<p>Taeyeon ikut terkekeh. Ia menarik tubuhnya sedikit, menopang dengan dua tangannya hingga ia bisa melihat wajah perempuan yang sudah dua minggu tidak ia temui.</p>

<p>“Aku juga merindukanmu,” ucapnya lembut. “Bagaimana Milan? Semua berjalan lancar?”</p>

<p>Perempuan itu mengangguk jenaka dan memperlihatkan garis senyum yang sangat indah di mata Taeyeon.</p>

<p>“<em>That was great</em>,” tangannya meraih rambut yang menutupi wajah Taeyeon, menyibaknya hingga ia dapat melihat lebih wajah Taeyeon jelas lagi. “Lelah?”</p>

<p>“Tergantung.”</p>

<p>“Maksud kamu?” ia kembali terkekeh, dia tahu kemana arah pembicaraan itu.</p>

<p>“Kamu lebih tahu daripada aku,” jawabnya hingga mendapat pukulan dari perempuan itu. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir perempuan itu.</p>

<p>“Mana oleh-olehku?”</p>

<p>“Besok, ok?”</p>

<p>Taeyeon menarik tubuhnya hingga duduk di paha perempuan itu. Ia menggeleng dengan bibir cemberut seperti anak kecil.</p>

<p>“Aku tahu kamu lelah dan aku juga, Taeyeon. <em>Jet lag sucks</em>.”</p>

<p>“Apalagi besok?”</p>

<p>“<em>You have me for a whole day</em>.”</p>

<p>“Serius?”</p>

<p>“Selama kamu gak ada <em>schedule</em>.”</p>

<p>Wajah Taeyeon semakin masam. Ia mulai merengek seperti anak kecil yang meminta lolipop kepada ibunya. Karena ia tahu jika besok ia harus ke agensi untuk mempersiapkan promosi single terbarunya, bertemu dengan orang ini itu dan- omong kosong ‘<em>you have me for a whole day</em>’.</p>

<p>“Sekarang, <em>please</em>?” pintanya dengan memelas.</p>

<p>“Tae, <em>you’re a Korean Diva. Don’t act like a five!</em>”</p>

<p>“Siapa yang bilang Korean Diva?”</p>

<p>“<em>Some articles say so</em>,” perempuan itu duduk dengan Taeyeon di pangkuannya. Beradu tatap dengan Taeyeon.  “Besok, ok? Aku juga belum bongkar koperku.”</p>

<p>Taeyeon masih cemberut dengan kening yang mengerut yang membuat perempuan itu terkekeh dan mengecup bibir Taeyeon dengan gemas.</p>

<p>“Kamu bilang besok.”</p>

<p>“Aku hanya mengecup, Taeyeon,” ucapnya sembari terus mengecup bibir Taeyeon. “Kamu bau sekali, Tae. Kamu belum mandi dari pagi?”</p>

<p>“Bau?!” ucap Taeyeon tersinggung “Yah! Mana ada Korean Diva bau?! Jangan coba-coba sebarkan rumor palsu seperti itu. Aku bisa menuntutmu.”</p>

<p>Perempuan itu terbahak-bahak mendengar rentetan omelan Taeyeon. Ia hendak memeluk tubuh mungil Taeyeon lagi namun ditepis oleh Taeyeon.</p>

<p>“Minggir! Korean Diva mau mandi!”</p>

<p>Taeyeon melangkah turun dari pangkuan perempuan itu dan segera berlalu menuju kamar mandi dengan wajah bersungut.</p>

<p>“<em>Oh my god, seriously I’m dating a five-years-old</em>.”</p>

<p>“Yah. Aku mendengarmu!”</p>

<p>“<em>Don’t yah at me</em>!”</p>

<p>“Yah! Yah! Yah!”</p>

<hr/>

<p>Tepat saat jam makan siang, Taeyeon keluar dari apartemen untuk mencari makan dan berlanjut menuju agensi. Namun sepertinya dia harus kembali ke apartemen untuk membawakan makanan untuk perempuan yang sekarang sedang tertidur pulas di kamarnya. Dia yakin jika perempuan itu tak akan bangun hingga malam nanti, tapi tak ada salahnya kan membawakannya makanan.</p>

<p>Ponsel Taeyeon berdering saat ia hendak melangkah keluar dari apartemen. Sung Hyo Unnie. Ia pun mengangkat telepon itu.</p>

<p>“Hallo, Unnie… ah tidak, aku tidak sedang sibuk sekarang…. Makan siang? Ok, kebetulan aku akan mencari makan siang. Kalau Unnie tidak keberatan kita bisa bertemu di sana… Ok. sampai bertemu di sana.”</p>

<p>Hanya perlu sekitar lima belas menit untuk sampai di sebuah restoran masakan korea. Dengan topi dan masker ia berjalan masuk sendirian. Menuju meja yang ia pesan di sudut restoran yang sepi. Dia menghindari orang-orang bahkan saat ia makan di tempat sekelas restoran ini, yang tak sembarang orang akan memilih untuk makan siang di tempat ini.</p>

<p>Taeyeon adalah Taeyeon. Dia terbiasa melakukan apapun sendirian. Bahkan makan di tempat ini pun dia sendirian. Tidak dengan manajer ataupun pacarnya. Dia lebih menyukai pergi sendirian dan melakukan pekerjaan kecil di sudut restoran hingga ia merasa cukup sebelum kembali bertemu dengan orang-orang. Soul charging. Mungkin itu yang ia lakukan saat sendirian. Karena sebetulnya dia tidak terlalu menyukai sesuatu yang mengharuskan ia bertemu dengan banyak orang kecuali karena pekerjaan. Fans sendiri terkadang terlalu melelahkan untuk ia atasi. Walaupun cukup sering dia melakukan <em>streaming</em> dadakan untuk menyapa mereka. Tapi sebetulnya itu terjadwal. Tidak serta merta hanya karena dia ingin, karena dia tak sesosial itu.</p>

<p>Ah iya.. Sung Hyo Unnie. Dia hampir lupa dengan <em>stylist</em>-nya. Taeyeon akhirnya memilih untuk memesan minuman saja hingga Sung Hyo datang.</p>

<p>Beruntung bagi Taeyeon karena Sung Hyo datang tak lama setelah pelayan mengantar minumannya. Ia melambaikan tangan kepada Sung Hyo yang tersenyum lebar ke arahnya.</p>

<p>“Apa aku terlalu lama?”</p>

<p>“Tidak. Duduklah Unnie,” Taeyeon membantu menarik kursi untuk Sung Hyo.</p>

<p>“Kamu perhatian sekali, Taeyeon. Lama-lama aku bisa lari dari suamiku,” celetuknya yang membuat keduanya tertawa.</p>

<p>“Baru dari agensi?”</p>

<p>Taeyeon menggeleng, “dari rumah. Hari ini aku cukup luang.” <em>Karena aku membatalkan banyak jadwal.</em></p>

<p>“Ah… Kamu pasti terlalu lelah karena kemarin.”</p>

<p>Taeyeon mengangguk menyetujui, walaupun sebetulnya dia lelah karena alasan lain. “Unnie bagaimana? Jangan terlalu sibuk, aku khawatir dengan bayimu.”</p>

<p>Ucapan itu membuat Sung Hyo semakin tersanjung. “Taeyeon-ah, bahkan kamu lebih perhatian dari suamiku. Sekali lagi kamu berkata sesuatu sepertinya aku akan menyesal karena menikahi suamiku.”</p>

<p>“Hey! Aku tidak mengatakannya untuk merusak pernikahanmu, Unnie. Jangan bercanda.”</p>

<p>Obrolan mereka terhenti saat pelayan kembali datang ke meja itu. Mereka memilih beberapa menu makan siang yang menjadi andalan di tempat ini. Sebelum kembali melanjutkan obrolan ringan.</p>

<p>“Taeyeon-ah, sebetulnya ada yang ingin aku sampaikan.” Sung Hyo menaruh tisu yang ia pakai untuk membersihkan sudut bibirnya.
Semua piring pesanan mereka bersih tanpa sisa.</p>

<p>“Apa Unnie?”</p>

<p>Taeyeon melihat Sung Hyo yang terlihat menatap meja dengan wajah yang serius. Dengan sabar ia menunggu perempuan itu kembali bersuara.</p>

<p>“Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu lagi, Taeyeon,” ucapnya berhati-hati. “Aku tahu ini sangat gila. Maksudku, sebentar lagi single-mu akan keluar dan banyak promosi yang harus dilakukan. Tapi aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan sanggup jika harus ke luar negeri lagi, Tae. Konser di Singapura kemarin sepertinya yang terakhir,” ucap Sung Hyo merujuk satu variety show yang akan Taeyeon lakukan di dua negara Eropa.</p>

<p>Taeyeon sangat memahami itu. Terlebih dengan perut Sung Hyo yang semakin membesar, rasanya akan berat jika harus membawa Sung Hyo di setiap kegiatannya yang akan datang.</p>

<p>“Aku memahaminya, Unnie. Santailah, jangan terlalu tegang seperti itu. Lagipula single-ku akan keluar dua bulan lagi, masih ada cukup waktu untuk mencari stylist yang bisa membantuku.”</p>

<p>“Ah tentang itu, aku sudah punya daftar <em>stylist</em> yang bisa membantumu di bulan-bulan itu. Bukan hanya dari latar belakang dan jadwalnya tapi juga dari personalnya. Aku mengenal mereka, dan aku pikir mereka akan cocok denganmu.”</p>

<p>Sung Hyo mengeluarkan tabletnya. Dia membuka dokumen berisi daftar <em>stylist</em> yang akan menggantikannya. “Coba lihat ini,” dia menyerahkan tablet itu ke Taeyeon. Dia menjelaskan semua <em>stylist</em> di daftar itu dengan gamblang kepada Taeyeon.</p>

<p>“Yang terakhir, Tiffany Young. Dia pernah bekerja dengan banyak idol di Korea. Dan satu yang jelas, dia pernah bekerja di Hollywood selama satu tahun. Semua orang yang pernah bekerja dengan dia sangat menyukainya karena dia tidak pernah memaksakan seleranya untuk orang lain. Melainkan benar-benar melihat yang terbaik dari preferensi klien.”</p>

<p>“Unnie, bagaimana Unnie menyiapkan ini semua?” ia menaruh tablet itu di meja lantas menatap Sung Hyo dengan mata membulat. “Unnie, tolong jangan terlalu lelah, aku sangat mengkhawatirkan bayimu. Aku tidak bercanda,” yakinnya. “Aku punya banyak orang, Unnie. Mereka bisa membantuku. <em>Stylist</em> dari agensi juga banyak yang bagus. Tolong jangan bekerja terlalu keras.”</p>

<p>Sung Hyo terkekeh. “Aku hanya hamil, Taeyeon, tidak sakit parah. Jangan memperlakukanku seperti kaca yang mudah pecah.”</p>

<p>“Hey… tetap saja, Unni,” sanggahnya. “Tapi… Unnie akan kembali setelah bayimu lahir kan?”</p>

<p>Wajah Sung Hyo mendadak kaku. Dia tersenyum getir ke arah Taeyeon.</p>

<p>“Serius?”</p>

<p>“Maaf, Taeyeon. Tapi kita bisa bertemu di luar pekerjaan kan?”</p>

<p>“Harus. Pastikan kita bisa minum bersama setelah bayimu lahir.”</p>

<p>“Baiklah. Aku book satu slot jadwalmu untuk enam bulan lagi.”</p>

<p>“<em>Call</em>!”</p>

<p>Mereka tertawa bersama. Taeyeon selalu menjadi sosok yang hangat walaupun terkadang dia menjadi sosok yang sangat canggung di depan banyak orang.</p>

<p>“Ah… dari semua daftar ini, siapa yang Unnie rekomendasikan?”</p>

<p>Wajah Sung Hyo kembali serius. Dia mengambil kembali tabletnya untuk melihat nama-nama di daftar itu. “Aku pikir Tiffany akan menjadi yang pertama. Sense dalam fashion-nya tidak bisa diragukan. Kamu bisa lihat dari klien yang sudah bekerja sama dengannya. Dia juga sangat ramah Taeyeon, bisa menempatkan dirinya dan aku pikir kalian akan cocok.”</p>

<p>“Aku juga akan memastikan sekali lagi jika jadwalnya tidak bentrok denganmu.”</p>

<p>Taeyeon terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna semua penjelasan Sung Hyo tentang stylist itu. Dalam hatinya, dia memang tertarik untuk mengajaknya bekerja sama dengan berbagai pertimbangan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dan dengan pertimbangan yang ruwet di kepalanya, sedetik kemudian dia meragu. Atau lebih baik dia memilih <em>stylist</em> lain? Sepertinya mereka akan cocok di urusan lain.</p>

<hr/>

<p>Taeyeon kembali ke apartemen dengan kantong penuh dengan makanan. Dia menaruhnya di meja makan. Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu untuk di tempel di atas kantong itu.</p>

<p>Lantas ia beralih untuk mengambil suplemen yang bisa mengembalikan tenaga perempuan itu. Dia tahu jika perempuan itu sangat lelah dan pekerjaannya hanya mengizinkan dia untuk beristirahat selama sehari. Semakin cepat ia pulih, akan semakin baik.</p>

<p>Sebelum kembali pergi, Taeyeon menyempatkan waktunya untuk mengintip perempuan itu di kamar. Menarik selimut hingga menutupi bahu perempuan itu dan memastikan suhu di kamar cukup nyaman untuk perempuan itu.</p>

<p>Dia memandang perempuan itu yang tertidur pulas. Perempuan itu akhirnya membayar hutang tidurnya setelah pekerjaannya di Milan selama dua minggu serta kemarin malam saat dia merelakan istirahatnya untuk mendengar semua keresahan Taeyeon. Harus Taeyeon akui, dia sangat beruntung mendapatkan perempuan itu.
Seseorang yang sangat memahami dia, pekerjaannya, dan resiko saat menjadi kekasihnya. Bertahan cukup lama tanpa banyak mengeluh.</p>

<p>Sayangnya Taeyeon tidak bisa membanggakannya di depan semua orang. Mereka harus berkencan dalam diam, mengingat pekerjaan Taeyeon yang sangat tidak mendukung urusan itu. Dan juga norma.
Setelah puas, Taeyeon membungkuk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu dengan lembut. Berpamitan untuk melanjutkan kesibukannya.</p>

<p>“Aku pergi dulu. <em>I love you</em>.”</p>

<hr/>

<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist1" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist1</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:taeny" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">taeny</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist</guid>
      <pubDate>Tue, 03 Aug 2021 01:29:35 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>