<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>divastylist1 &amp;mdash; Bola Ubi (taengoori)</title>
    <link>https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist1</link>
    <description>SM Stan | Writer | I write everything especially  about Taeny, Seulrene, and Bluesy | Don&#39;t forget to leave your feedback on my CC, link on: linktr.ee/taengoori</description>
    <pubDate>Wed, 04 Nov 2026 04:07:40 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>DIVA STYLIST</title>
      <link>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#divastylist #snsd #divastylist1&#xA;&#xA;Part 1&#xA;&#xA;Taeyeon memperhatikan seorang perempuan dengan perut membesar di sudut ruangan. Perempuan itu sedang memejamkan matanya dan sangat terlihat jika dia lelah. Pembuatan MV hari ini memang cukup panjang, hampir enam jam mereka di lokasi, dan masih tersisa kurang lebih dua jam sebelum mereka merampungkan pekerjaan hari ini.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;“Apa aku harus berganti baju lagi?” tanya Taeyeon pada manajernya.&#xA;&#xA;“Iya, masih ada satu konsep lagi untuk video dan photoshoot.”&#xA;Taeyeon hanya menghela nafasnya.&#xA;&#xA;“Mereka masih menyiapkan set, jadi kamu punya setengah jam untuk beristirahat, Taeyeon,” sambung manajernya.&#xA;&#xA;Taeyeon mengangguk. “Unnie, apa tempat ini hanya ada satu sofa?”&#xA;&#xA;“Betul.”&#xA;&#xA;“Ada kursi kecil untuk menopang kaki?”&#xA;&#xA;“Kenapa? Kamu membutuhkannya?” &#xA;&#xA;“Bukan aku, tapi Sung Hyo Unnie.”&#xA;&#xA;Manajer itu mengikuti arah mata Taeyeon ke sudut ruangan, tempat Sung Hyo sedang beristirahat. Sung Hyo tertidur dengan kaki yang menggantung dan kepala yang bersandar pada punggung sofa.&#xA;&#xA;“Aku mengkhawatirkannya.”&#xA;&#xA;Min Ji mengangguk, “baiklah, aku akan mencarikannya. Ada lagi yang kamu perlukan?”&#xA;&#xA;“Tidak ada. Carikan kursi untuk dia dan kalau bisa bantal untuk punggungnya.”&#xA;&#xA;Minji mengangguk, dia menunggu Taeyeon berbaring di sofa itu. Meringkuk dan segera memejamkan matanya begitu kepalanya menyentuh bantal. Ia memakaikan selimut di tubuh mungil Taeyeon sebelum berlalu untuk mencari kursi dan bantal untuk Sung Hyo, stylist Taeyeon yang sedang hamil empat bulan.&#xA;----&#xA;Taeyeon membuka pintu apartemennya. Menendang sepatunya sembarangan sebelum melangkah limbung menuju kamarnya. Tubuhnya terasa seperti selesai triathlon. Sangat lelah dan sangat ingin tenggelam di kasur tanpa peduli untuk mandi. Oke itu jorok, mungkin hanya menghapus make up yang masih menempel dan mengganti pakaiannya sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur.&#xA;&#xA;Tanpa peduli dengan kegelapan, Taeyeon terus berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu kamar yang juga menampakkan kegelapan, sama seperti sepanjang ruangan yang telah ia lewati. Dia melempar tasnya di lantai, hendak berjalan menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti saat menyadari ia mencium parfum seseorang yang tak asing baginya.&#xA;&#xA;Matanya menyipit, mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Taeyeon menangkap sebuah bayangan perempuan yang sedang duduk di ujung kasurnya. Ia juga mendengar dengusan dari perempuan itu. Tanpa pikir panjang, Taeyeon menepuk tangannya satu kali untuk menyalakan lampu dan segera melempar tubuhnya ke tubuh perempuan itu hingga berhasil menindih perempuan itu.&#xA;&#xA;“Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?” tanyanya. Ia membenamkan wajahnya di rambut perempuan itu.&#xA;&#xA;Perempuan itu terkekeh. Tangannya melingkar di punggung Taeyeon dan memeluknya erat-erat. “Hai juga, Taeyeon. Aku merindukanmu.”&#xA;&#xA;Taeyeon ikut terkekeh. Ia menarik tubuhnya sedikit, menopang dengan dua tangannya hingga ia bisa melihat wajah perempuan yang sudah dua minggu tidak ia temui.&#xA;&#xA;“Aku juga merindukanmu,” ucapnya lembut. “Bagaimana Milan? Semua berjalan lancar?” &#xA;&#xA;Perempuan itu mengangguk jenaka dan memperlihatkan garis senyum yang sangat indah di mata Taeyeon.&#xA;&#xA;“That was great,” tangannya meraih rambut yang menutupi wajah Taeyeon, menyibaknya hingga ia dapat melihat lebih wajah Taeyeon jelas lagi. “Lelah?”&#xA;&#xA;“Tergantung.”&#xA;&#xA;“Maksud kamu?” ia kembali terkekeh, dia tahu kemana arah pembicaraan itu.&#xA;&#xA;“Kamu lebih tahu daripada aku,” jawabnya hingga mendapat pukulan dari perempuan itu. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir perempuan itu.&#xA;&#xA;“Mana oleh-olehku?”&#xA;&#xA;“Besok, ok?”&#xA;&#xA;Taeyeon menarik tubuhnya hingga duduk di paha perempuan itu. Ia menggeleng dengan bibir cemberut seperti anak kecil.&#xA;&#xA;“Aku tahu kamu lelah dan aku juga, Taeyeon. Jet lag sucks.”&#xA;&#xA;“Apalagi besok?”&#xA;&#xA;“You have me for a whole day.”&#xA;&#xA;“Serius?”&#xA;&#xA;“Selama kamu gak ada schedule.”&#xA;&#xA;Wajah Taeyeon semakin masam. Ia mulai merengek seperti anak kecil yang meminta lolipop kepada ibunya. Karena ia tahu jika besok ia harus ke agensi untuk mempersiapkan promosi single terbarunya, bertemu dengan orang ini itu dan- omong kosong ‘you have me for a whole day’.  &#xA;&#xA;“Sekarang, please?” pintanya dengan memelas.&#xA;&#xA;“Tae, you’re a Korean Diva. Don’t act like a five!”&#xA;&#xA;“Siapa yang bilang Korean Diva?”&#xA;&#xA;“Some articles say so,” perempuan itu duduk dengan Taeyeon di pangkuannya. Beradu tatap dengan Taeyeon.  “Besok, ok? Aku juga belum bongkar koperku.”&#xA;&#xA;Taeyeon masih cemberut dengan kening yang mengerut yang membuat perempuan itu terkekeh dan mengecup bibir Taeyeon dengan gemas.&#xA;&#xA;“Kamu bilang besok.”&#xA;&#xA;“Aku hanya mengecup, Taeyeon,” ucapnya sembari terus mengecup bibir Taeyeon. “Kamu bau sekali, Tae. Kamu belum mandi dari pagi?”&#xA;&#xA;“Bau?!” ucap Taeyeon tersinggung “Yah! Mana ada Korean Diva bau?! Jangan coba-coba sebarkan rumor palsu seperti itu. Aku bisa menuntutmu.”&#xA;&#xA;Perempuan itu terbahak-bahak mendengar rentetan omelan Taeyeon. Ia hendak memeluk tubuh mungil Taeyeon lagi namun ditepis oleh Taeyeon.&#xA;&#xA;“Minggir! Korean Diva mau mandi!”&#xA;&#xA;Taeyeon melangkah turun dari pangkuan perempuan itu dan segera berlalu menuju kamar mandi dengan wajah bersungut.&#xA;&#xA;“Oh my god, seriously I’m dating a five-years-old.”&#xA;&#xA;“Yah. Aku mendengarmu!”&#xA;&#xA;“Don’t yah at me!”&#xA;&#xA;&#34;Yah! Yah! Yah!&#34;&#xA;-----&#xA;Tepat saat jam makan siang, Taeyeon keluar dari apartemen untuk mencari makan dan berlanjut menuju agensi. Namun sepertinya dia harus kembali ke apartemen untuk membawakan makanan untuk perempuan yang sekarang sedang tertidur pulas di kamarnya. Dia yakin jika perempuan itu tak akan bangun hingga malam nanti, tapi tak ada salahnya kan membawakannya makanan.&#xA;&#xA;Ponsel Taeyeon berdering saat ia hendak melangkah keluar dari apartemen. Sung Hyo Unnie. Ia pun mengangkat telepon itu. &#xA;&#xA;“Hallo, Unnie… ah tidak, aku tidak sedang sibuk sekarang…. Makan siang? Ok, kebetulan aku akan mencari makan siang. Kalau Unnie tidak keberatan kita bisa bertemu di sana… Ok. sampai bertemu di sana.”&#xA;&#xA;Hanya perlu sekitar lima belas menit untuk sampai di sebuah restoran masakan korea. Dengan topi dan masker ia berjalan masuk sendirian. Menuju meja yang ia pesan di sudut restoran yang sepi. Dia menghindari orang-orang bahkan saat ia makan di tempat sekelas restoran ini, yang tak sembarang orang akan memilih untuk makan siang di tempat ini. &#xA;&#xA;Taeyeon adalah Taeyeon. Dia terbiasa melakukan apapun sendirian. Bahkan makan di tempat ini pun dia sendirian. Tidak dengan manajer ataupun pacarnya. Dia lebih menyukai pergi sendirian dan melakukan pekerjaan kecil di sudut restoran hingga ia merasa cukup sebelum kembali bertemu dengan orang-orang. Soul charging. Mungkin itu yang ia lakukan saat sendirian. Karena sebetulnya dia tidak terlalu menyukai sesuatu yang mengharuskan ia bertemu dengan banyak orang kecuali karena pekerjaan. Fans sendiri terkadang terlalu melelahkan untuk ia atasi. Walaupun cukup sering dia melakukan streaming dadakan untuk menyapa mereka. Tapi sebetulnya itu terjadwal. Tidak serta merta hanya karena dia ingin, karena dia tak sesosial itu.&#xA;&#xA;Ah iya.. Sung Hyo Unnie. Dia hampir lupa dengan stylist-nya. Taeyeon akhirnya memilih untuk memesan minuman saja hingga Sung Hyo datang.&#xA;&#xA;Beruntung bagi Taeyeon karena Sung Hyo datang tak lama setelah pelayan mengantar minumannya. Ia melambaikan tangan kepada Sung Hyo yang tersenyum lebar ke arahnya.&#xA;&#xA;“Apa aku terlalu lama?”&#xA;&#xA;“Tidak. Duduklah Unnie,” Taeyeon membantu menarik kursi untuk Sung Hyo.&#xA;&#xA;“Kamu perhatian sekali, Taeyeon. Lama-lama aku bisa lari dari suamiku,” celetuknya yang membuat keduanya tertawa. &#xA;&#xA;“Baru dari agensi?”&#xA;&#xA;Taeyeon menggeleng, “dari rumah. Hari ini aku cukup luang.” Karena aku membatalkan banyak jadwal.&#xA;&#xA;“Ah… Kamu pasti terlalu lelah karena kemarin.”&#xA;&#xA;Taeyeon mengangguk menyetujui, walaupun sebetulnya dia lelah karena alasan lain. “Unnie bagaimana? Jangan terlalu sibuk, aku khawatir dengan bayimu.”&#xA;&#xA;Ucapan itu membuat Sung Hyo semakin tersanjung. “Taeyeon-ah, bahkan kamu lebih perhatian dari suamiku. Sekali lagi kamu berkata sesuatu sepertinya aku akan menyesal karena menikahi suamiku.”&#xA;&#xA;“Hey! Aku tidak mengatakannya untuk merusak pernikahanmu, Unnie. Jangan bercanda.”&#xA;&#xA;Obrolan mereka terhenti saat pelayan kembali datang ke meja itu. Mereka memilih beberapa menu makan siang yang menjadi andalan di tempat ini. Sebelum kembali melanjutkan obrolan ringan.&#xA;&#xA;“Taeyeon-ah, sebetulnya ada yang ingin aku sampaikan.” Sung Hyo menaruh tisu yang ia pakai untuk membersihkan sudut bibirnya. &#xA;Semua piring pesanan mereka bersih tanpa sisa. &#xA;&#xA;“Apa Unnie?”&#xA;&#xA;Taeyeon melihat Sung Hyo yang terlihat menatap meja dengan wajah yang serius. Dengan sabar ia menunggu perempuan itu kembali bersuara.&#xA;&#xA;“Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu lagi, Taeyeon,” ucapnya berhati-hati. “Aku tahu ini sangat gila. Maksudku, sebentar lagi single-mu akan keluar dan banyak promosi yang harus dilakukan. Tapi aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan sanggup jika harus ke luar negeri lagi, Tae. Konser di Singapura kemarin sepertinya yang terakhir,” ucap Sung Hyo merujuk satu variety show yang akan Taeyeon lakukan di dua negara Eropa.&#xA;&#xA;Taeyeon sangat memahami itu. Terlebih dengan perut Sung Hyo yang semakin membesar, rasanya akan berat jika harus membawa Sung Hyo di setiap kegiatannya yang akan datang. &#xA;&#xA;“Aku memahaminya, Unnie. Santailah, jangan terlalu tegang seperti itu. Lagipula single-ku akan keluar dua bulan lagi, masih ada cukup waktu untuk mencari stylist yang bisa membantuku.”&#xA;&#xA;“Ah tentang itu, aku sudah punya daftar stylist yang bisa membantumu di bulan-bulan itu. Bukan hanya dari latar belakang dan jadwalnya tapi juga dari personalnya. Aku mengenal mereka, dan aku pikir mereka akan cocok denganmu.”&#xA;&#xA;Sung Hyo mengeluarkan tabletnya. Dia membuka dokumen berisi daftar stylist yang akan menggantikannya. “Coba lihat ini,” dia menyerahkan tablet itu ke Taeyeon. Dia menjelaskan semua stylist di daftar itu dengan gamblang kepada Taeyeon.&#xA;&#xA;“Yang terakhir, Tiffany Young. Dia pernah bekerja dengan banyak idol di Korea. Dan satu yang jelas, dia pernah bekerja di Hollywood selama satu tahun. Semua orang yang pernah bekerja dengan dia sangat menyukainya karena dia tidak pernah memaksakan seleranya untuk orang lain. Melainkan benar-benar melihat yang terbaik dari preferensi klien.”&#xA; &#xA;“Unnie, bagaimana Unnie menyiapkan ini semua?” ia menaruh tablet itu di meja lantas menatap Sung Hyo dengan mata membulat. “Unnie, tolong jangan terlalu lelah, aku sangat mengkhawatirkan bayimu. Aku tidak bercanda,” yakinnya. “Aku punya banyak orang, Unnie. Mereka bisa membantuku. Stylist dari agensi juga banyak yang bagus. Tolong jangan bekerja terlalu keras.”&#xA;&#xA;Sung Hyo terkekeh. “Aku hanya hamil, Taeyeon, tidak sakit parah. Jangan memperlakukanku seperti kaca yang mudah pecah.”&#xA;&#xA;“Hey… tetap saja, Unni,” sanggahnya. “Tapi… Unnie akan kembali setelah bayimu lahir kan?”&#xA;&#xA;Wajah Sung Hyo mendadak kaku. Dia tersenyum getir ke arah Taeyeon. &#xA;&#xA;“Serius?”&#xA;&#xA;“Maaf, Taeyeon. Tapi kita bisa bertemu di luar pekerjaan kan?”&#xA;&#xA;“Harus. Pastikan kita bisa minum bersama setelah bayimu lahir.”&#xA;&#xA;“Baiklah. Aku book satu slot jadwalmu untuk enam bulan lagi.”&#xA;&#xA;“Call!”&#xA;&#xA;Mereka tertawa bersama. Taeyeon selalu menjadi sosok yang hangat walaupun terkadang dia menjadi sosok yang sangat canggung di depan banyak orang.&#xA;&#xA;“Ah… dari semua daftar ini, siapa yang Unnie rekomendasikan?”&#xA;&#xA;Wajah Sung Hyo kembali serius. Dia mengambil kembali tabletnya untuk melihat nama-nama di daftar itu. “Aku pikir Tiffany akan menjadi yang pertama. Sense dalam fashion-nya tidak bisa diragukan. Kamu bisa lihat dari klien yang sudah bekerja sama dengannya. Dia juga sangat ramah Taeyeon, bisa menempatkan dirinya dan aku pikir kalian akan cocok.”&#xA;&#xA;&#34;Aku juga akan memastikan sekali lagi jika jadwalnya tidak bentrok denganmu.&#34;&#xA;&#xA;Taeyeon terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna semua penjelasan Sung Hyo tentang stylist itu. Dalam hatinya, dia memang tertarik untuk mengajaknya bekerja sama dengan berbagai pertimbangan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dan dengan pertimbangan yang ruwet di kepalanya, sedetik kemudian dia meragu. Atau lebih baik dia memilih stylist lain? Sepertinya mereka akan cocok di urusan lain.&#xA;------&#xA;Taeyeon kembali ke apartemen dengan kantong penuh dengan makanan. Dia menaruhnya di meja makan. Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu untuk di tempel di atas kantong itu. &#xA;&#xA;Lantas ia beralih untuk mengambil suplemen yang bisa mengembalikan tenaga perempuan itu. Dia tahu jika perempuan itu sangat lelah dan pekerjaannya hanya mengizinkan dia untuk beristirahat selama sehari. Semakin cepat ia pulih, akan semakin baik.&#xA;&#xA;Sebelum kembali pergi, Taeyeon menyempatkan waktunya untuk mengintip perempuan itu di kamar. Menarik selimut hingga menutupi bahu perempuan itu dan memastikan suhu di kamar cukup nyaman untuk perempuan itu. &#xA;&#xA;Dia memandang perempuan itu yang tertidur pulas. Perempuan itu akhirnya membayar hutang tidurnya setelah pekerjaannya di Milan selama dua minggu serta kemarin malam saat dia merelakan istirahatnya untuk mendengar semua keresahan Taeyeon. Harus Taeyeon akui, dia sangat beruntung mendapatkan perempuan itu. &#xA;Seseorang yang sangat memahami dia, pekerjaannya, dan resiko saat menjadi kekasihnya. Bertahan cukup lama tanpa banyak mengeluh. &#xA;&#xA;Sayangnya Taeyeon tidak bisa membanggakannya di depan semua orang. Mereka harus berkencan dalam diam, mengingat pekerjaan Taeyeon yang sangat tidak mendukung urusan itu. Dan juga norma.&#xA;Setelah puas, Taeyeon membungkuk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu dengan lembut. Berpamitan untuk melanjutkan kesibukannya.&#xA;&#xA;“Aku pergi dulu. I love you.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;#divastylist #snsd #divastylist1 #taeny]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist1" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist1</span></a></p>

<p><strong>Part 1</strong></p>

<p>Taeyeon memperhatikan seorang perempuan dengan perut membesar di sudut ruangan. Perempuan itu sedang memejamkan matanya dan sangat terlihat jika dia lelah. Pembuatan MV hari ini memang cukup panjang, hampir enam jam mereka di lokasi, dan masih tersisa kurang lebih dua jam sebelum mereka merampungkan pekerjaan hari ini.
</p>

<p>“Apa aku harus berganti baju lagi?” tanya Taeyeon pada manajernya.</p>

<p>“Iya, masih ada satu konsep lagi untuk video dan <em>photoshoot</em>.”
Taeyeon hanya menghela nafasnya.</p>

<p>“Mereka masih menyiapkan set, jadi kamu punya setengah jam untuk beristirahat, Taeyeon,” sambung manajernya.</p>

<p>Taeyeon mengangguk. “Unnie, apa tempat ini hanya ada satu sofa?”</p>

<p>“Betul.”</p>

<p>“Ada kursi kecil untuk menopang kaki?”</p>

<p>“Kenapa? Kamu membutuhkannya?”</p>

<p>“Bukan aku, tapi Sung Hyo Unnie.”</p>

<p>Manajer itu mengikuti arah mata Taeyeon ke sudut ruangan, tempat Sung Hyo sedang beristirahat. Sung Hyo tertidur dengan kaki yang menggantung dan kepala yang bersandar pada punggung sofa.</p>

<p>“Aku mengkhawatirkannya.”</p>

<p>Min Ji mengangguk, “baiklah, aku akan mencarikannya. Ada lagi yang kamu perlukan?”</p>

<p>“Tidak ada. Carikan kursi untuk dia dan kalau bisa bantal untuk punggungnya.”</p>

<p>Minji mengangguk, dia menunggu Taeyeon berbaring di sofa itu. Meringkuk dan segera memejamkan matanya begitu kepalanya menyentuh bantal. Ia memakaikan selimut di tubuh mungil Taeyeon sebelum berlalu untuk mencari kursi dan bantal untuk Sung Hyo, <em>stylist</em> Taeyeon yang sedang hamil empat bulan.</p>

<hr/>

<p>Taeyeon membuka pintu apartemennya. Menendang sepatunya sembarangan sebelum melangkah limbung menuju kamarnya. Tubuhnya terasa seperti selesai triathlon. Sangat lelah dan sangat ingin tenggelam di kasur tanpa peduli untuk mandi. Oke itu jorok, mungkin hanya menghapus make up yang masih menempel dan mengganti pakaiannya sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur.</p>

<p>Tanpa peduli dengan kegelapan, Taeyeon terus berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu kamar yang juga menampakkan kegelapan, sama seperti sepanjang ruangan yang telah ia lewati. Dia melempar tasnya di lantai, hendak berjalan menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti saat menyadari ia mencium parfum seseorang yang tak asing baginya.</p>

<p>Matanya menyipit, mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Taeyeon menangkap sebuah bayangan perempuan yang sedang duduk di ujung kasurnya. Ia juga mendengar dengusan dari perempuan itu. Tanpa pikir panjang, Taeyeon menepuk tangannya satu kali untuk menyalakan lampu dan segera melempar tubuhnya ke tubuh perempuan itu hingga berhasil menindih perempuan itu.</p>

<p>“Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?” tanyanya. Ia membenamkan wajahnya di rambut perempuan itu.</p>

<p>Perempuan itu terkekeh. Tangannya melingkar di punggung Taeyeon dan memeluknya erat-erat. “Hai juga, Taeyeon. Aku merindukanmu.”</p>

<p>Taeyeon ikut terkekeh. Ia menarik tubuhnya sedikit, menopang dengan dua tangannya hingga ia bisa melihat wajah perempuan yang sudah dua minggu tidak ia temui.</p>

<p>“Aku juga merindukanmu,” ucapnya lembut. “Bagaimana Milan? Semua berjalan lancar?”</p>

<p>Perempuan itu mengangguk jenaka dan memperlihatkan garis senyum yang sangat indah di mata Taeyeon.</p>

<p>“<em>That was great</em>,” tangannya meraih rambut yang menutupi wajah Taeyeon, menyibaknya hingga ia dapat melihat lebih wajah Taeyeon jelas lagi. “Lelah?”</p>

<p>“Tergantung.”</p>

<p>“Maksud kamu?” ia kembali terkekeh, dia tahu kemana arah pembicaraan itu.</p>

<p>“Kamu lebih tahu daripada aku,” jawabnya hingga mendapat pukulan dari perempuan itu. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir perempuan itu.</p>

<p>“Mana oleh-olehku?”</p>

<p>“Besok, ok?”</p>

<p>Taeyeon menarik tubuhnya hingga duduk di paha perempuan itu. Ia menggeleng dengan bibir cemberut seperti anak kecil.</p>

<p>“Aku tahu kamu lelah dan aku juga, Taeyeon. <em>Jet lag sucks</em>.”</p>

<p>“Apalagi besok?”</p>

<p>“<em>You have me for a whole day</em>.”</p>

<p>“Serius?”</p>

<p>“Selama kamu gak ada <em>schedule</em>.”</p>

<p>Wajah Taeyeon semakin masam. Ia mulai merengek seperti anak kecil yang meminta lolipop kepada ibunya. Karena ia tahu jika besok ia harus ke agensi untuk mempersiapkan promosi single terbarunya, bertemu dengan orang ini itu dan- omong kosong ‘<em>you have me for a whole day</em>’.</p>

<p>“Sekarang, <em>please</em>?” pintanya dengan memelas.</p>

<p>“Tae, <em>you’re a Korean Diva. Don’t act like a five!</em>”</p>

<p>“Siapa yang bilang Korean Diva?”</p>

<p>“<em>Some articles say so</em>,” perempuan itu duduk dengan Taeyeon di pangkuannya. Beradu tatap dengan Taeyeon.  “Besok, ok? Aku juga belum bongkar koperku.”</p>

<p>Taeyeon masih cemberut dengan kening yang mengerut yang membuat perempuan itu terkekeh dan mengecup bibir Taeyeon dengan gemas.</p>

<p>“Kamu bilang besok.”</p>

<p>“Aku hanya mengecup, Taeyeon,” ucapnya sembari terus mengecup bibir Taeyeon. “Kamu bau sekali, Tae. Kamu belum mandi dari pagi?”</p>

<p>“Bau?!” ucap Taeyeon tersinggung “Yah! Mana ada Korean Diva bau?! Jangan coba-coba sebarkan rumor palsu seperti itu. Aku bisa menuntutmu.”</p>

<p>Perempuan itu terbahak-bahak mendengar rentetan omelan Taeyeon. Ia hendak memeluk tubuh mungil Taeyeon lagi namun ditepis oleh Taeyeon.</p>

<p>“Minggir! Korean Diva mau mandi!”</p>

<p>Taeyeon melangkah turun dari pangkuan perempuan itu dan segera berlalu menuju kamar mandi dengan wajah bersungut.</p>

<p>“<em>Oh my god, seriously I’m dating a five-years-old</em>.”</p>

<p>“Yah. Aku mendengarmu!”</p>

<p>“<em>Don’t yah at me</em>!”</p>

<p>“Yah! Yah! Yah!”</p>

<hr/>

<p>Tepat saat jam makan siang, Taeyeon keluar dari apartemen untuk mencari makan dan berlanjut menuju agensi. Namun sepertinya dia harus kembali ke apartemen untuk membawakan makanan untuk perempuan yang sekarang sedang tertidur pulas di kamarnya. Dia yakin jika perempuan itu tak akan bangun hingga malam nanti, tapi tak ada salahnya kan membawakannya makanan.</p>

<p>Ponsel Taeyeon berdering saat ia hendak melangkah keluar dari apartemen. Sung Hyo Unnie. Ia pun mengangkat telepon itu.</p>

<p>“Hallo, Unnie… ah tidak, aku tidak sedang sibuk sekarang…. Makan siang? Ok, kebetulan aku akan mencari makan siang. Kalau Unnie tidak keberatan kita bisa bertemu di sana… Ok. sampai bertemu di sana.”</p>

<p>Hanya perlu sekitar lima belas menit untuk sampai di sebuah restoran masakan korea. Dengan topi dan masker ia berjalan masuk sendirian. Menuju meja yang ia pesan di sudut restoran yang sepi. Dia menghindari orang-orang bahkan saat ia makan di tempat sekelas restoran ini, yang tak sembarang orang akan memilih untuk makan siang di tempat ini.</p>

<p>Taeyeon adalah Taeyeon. Dia terbiasa melakukan apapun sendirian. Bahkan makan di tempat ini pun dia sendirian. Tidak dengan manajer ataupun pacarnya. Dia lebih menyukai pergi sendirian dan melakukan pekerjaan kecil di sudut restoran hingga ia merasa cukup sebelum kembali bertemu dengan orang-orang. Soul charging. Mungkin itu yang ia lakukan saat sendirian. Karena sebetulnya dia tidak terlalu menyukai sesuatu yang mengharuskan ia bertemu dengan banyak orang kecuali karena pekerjaan. Fans sendiri terkadang terlalu melelahkan untuk ia atasi. Walaupun cukup sering dia melakukan <em>streaming</em> dadakan untuk menyapa mereka. Tapi sebetulnya itu terjadwal. Tidak serta merta hanya karena dia ingin, karena dia tak sesosial itu.</p>

<p>Ah iya.. Sung Hyo Unnie. Dia hampir lupa dengan <em>stylist</em>-nya. Taeyeon akhirnya memilih untuk memesan minuman saja hingga Sung Hyo datang.</p>

<p>Beruntung bagi Taeyeon karena Sung Hyo datang tak lama setelah pelayan mengantar minumannya. Ia melambaikan tangan kepada Sung Hyo yang tersenyum lebar ke arahnya.</p>

<p>“Apa aku terlalu lama?”</p>

<p>“Tidak. Duduklah Unnie,” Taeyeon membantu menarik kursi untuk Sung Hyo.</p>

<p>“Kamu perhatian sekali, Taeyeon. Lama-lama aku bisa lari dari suamiku,” celetuknya yang membuat keduanya tertawa.</p>

<p>“Baru dari agensi?”</p>

<p>Taeyeon menggeleng, “dari rumah. Hari ini aku cukup luang.” <em>Karena aku membatalkan banyak jadwal.</em></p>

<p>“Ah… Kamu pasti terlalu lelah karena kemarin.”</p>

<p>Taeyeon mengangguk menyetujui, walaupun sebetulnya dia lelah karena alasan lain. “Unnie bagaimana? Jangan terlalu sibuk, aku khawatir dengan bayimu.”</p>

<p>Ucapan itu membuat Sung Hyo semakin tersanjung. “Taeyeon-ah, bahkan kamu lebih perhatian dari suamiku. Sekali lagi kamu berkata sesuatu sepertinya aku akan menyesal karena menikahi suamiku.”</p>

<p>“Hey! Aku tidak mengatakannya untuk merusak pernikahanmu, Unnie. Jangan bercanda.”</p>

<p>Obrolan mereka terhenti saat pelayan kembali datang ke meja itu. Mereka memilih beberapa menu makan siang yang menjadi andalan di tempat ini. Sebelum kembali melanjutkan obrolan ringan.</p>

<p>“Taeyeon-ah, sebetulnya ada yang ingin aku sampaikan.” Sung Hyo menaruh tisu yang ia pakai untuk membersihkan sudut bibirnya.
Semua piring pesanan mereka bersih tanpa sisa.</p>

<p>“Apa Unnie?”</p>

<p>Taeyeon melihat Sung Hyo yang terlihat menatap meja dengan wajah yang serius. Dengan sabar ia menunggu perempuan itu kembali bersuara.</p>

<p>“Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu lagi, Taeyeon,” ucapnya berhati-hati. “Aku tahu ini sangat gila. Maksudku, sebentar lagi single-mu akan keluar dan banyak promosi yang harus dilakukan. Tapi aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan sanggup jika harus ke luar negeri lagi, Tae. Konser di Singapura kemarin sepertinya yang terakhir,” ucap Sung Hyo merujuk satu variety show yang akan Taeyeon lakukan di dua negara Eropa.</p>

<p>Taeyeon sangat memahami itu. Terlebih dengan perut Sung Hyo yang semakin membesar, rasanya akan berat jika harus membawa Sung Hyo di setiap kegiatannya yang akan datang.</p>

<p>“Aku memahaminya, Unnie. Santailah, jangan terlalu tegang seperti itu. Lagipula single-ku akan keluar dua bulan lagi, masih ada cukup waktu untuk mencari stylist yang bisa membantuku.”</p>

<p>“Ah tentang itu, aku sudah punya daftar <em>stylist</em> yang bisa membantumu di bulan-bulan itu. Bukan hanya dari latar belakang dan jadwalnya tapi juga dari personalnya. Aku mengenal mereka, dan aku pikir mereka akan cocok denganmu.”</p>

<p>Sung Hyo mengeluarkan tabletnya. Dia membuka dokumen berisi daftar <em>stylist</em> yang akan menggantikannya. “Coba lihat ini,” dia menyerahkan tablet itu ke Taeyeon. Dia menjelaskan semua <em>stylist</em> di daftar itu dengan gamblang kepada Taeyeon.</p>

<p>“Yang terakhir, Tiffany Young. Dia pernah bekerja dengan banyak idol di Korea. Dan satu yang jelas, dia pernah bekerja di Hollywood selama satu tahun. Semua orang yang pernah bekerja dengan dia sangat menyukainya karena dia tidak pernah memaksakan seleranya untuk orang lain. Melainkan benar-benar melihat yang terbaik dari preferensi klien.”</p>

<p>“Unnie, bagaimana Unnie menyiapkan ini semua?” ia menaruh tablet itu di meja lantas menatap Sung Hyo dengan mata membulat. “Unnie, tolong jangan terlalu lelah, aku sangat mengkhawatirkan bayimu. Aku tidak bercanda,” yakinnya. “Aku punya banyak orang, Unnie. Mereka bisa membantuku. <em>Stylist</em> dari agensi juga banyak yang bagus. Tolong jangan bekerja terlalu keras.”</p>

<p>Sung Hyo terkekeh. “Aku hanya hamil, Taeyeon, tidak sakit parah. Jangan memperlakukanku seperti kaca yang mudah pecah.”</p>

<p>“Hey… tetap saja, Unni,” sanggahnya. “Tapi… Unnie akan kembali setelah bayimu lahir kan?”</p>

<p>Wajah Sung Hyo mendadak kaku. Dia tersenyum getir ke arah Taeyeon.</p>

<p>“Serius?”</p>

<p>“Maaf, Taeyeon. Tapi kita bisa bertemu di luar pekerjaan kan?”</p>

<p>“Harus. Pastikan kita bisa minum bersama setelah bayimu lahir.”</p>

<p>“Baiklah. Aku book satu slot jadwalmu untuk enam bulan lagi.”</p>

<p>“<em>Call</em>!”</p>

<p>Mereka tertawa bersama. Taeyeon selalu menjadi sosok yang hangat walaupun terkadang dia menjadi sosok yang sangat canggung di depan banyak orang.</p>

<p>“Ah… dari semua daftar ini, siapa yang Unnie rekomendasikan?”</p>

<p>Wajah Sung Hyo kembali serius. Dia mengambil kembali tabletnya untuk melihat nama-nama di daftar itu. “Aku pikir Tiffany akan menjadi yang pertama. Sense dalam fashion-nya tidak bisa diragukan. Kamu bisa lihat dari klien yang sudah bekerja sama dengannya. Dia juga sangat ramah Taeyeon, bisa menempatkan dirinya dan aku pikir kalian akan cocok.”</p>

<p>“Aku juga akan memastikan sekali lagi jika jadwalnya tidak bentrok denganmu.”</p>

<p>Taeyeon terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna semua penjelasan Sung Hyo tentang stylist itu. Dalam hatinya, dia memang tertarik untuk mengajaknya bekerja sama dengan berbagai pertimbangan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dan dengan pertimbangan yang ruwet di kepalanya, sedetik kemudian dia meragu. Atau lebih baik dia memilih <em>stylist</em> lain? Sepertinya mereka akan cocok di urusan lain.</p>

<hr/>

<p>Taeyeon kembali ke apartemen dengan kantong penuh dengan makanan. Dia menaruhnya di meja makan. Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu untuk di tempel di atas kantong itu.</p>

<p>Lantas ia beralih untuk mengambil suplemen yang bisa mengembalikan tenaga perempuan itu. Dia tahu jika perempuan itu sangat lelah dan pekerjaannya hanya mengizinkan dia untuk beristirahat selama sehari. Semakin cepat ia pulih, akan semakin baik.</p>

<p>Sebelum kembali pergi, Taeyeon menyempatkan waktunya untuk mengintip perempuan itu di kamar. Menarik selimut hingga menutupi bahu perempuan itu dan memastikan suhu di kamar cukup nyaman untuk perempuan itu.</p>

<p>Dia memandang perempuan itu yang tertidur pulas. Perempuan itu akhirnya membayar hutang tidurnya setelah pekerjaannya di Milan selama dua minggu serta kemarin malam saat dia merelakan istirahatnya untuk mendengar semua keresahan Taeyeon. Harus Taeyeon akui, dia sangat beruntung mendapatkan perempuan itu.
Seseorang yang sangat memahami dia, pekerjaannya, dan resiko saat menjadi kekasihnya. Bertahan cukup lama tanpa banyak mengeluh.</p>

<p>Sayangnya Taeyeon tidak bisa membanggakannya di depan semua orang. Mereka harus berkencan dalam diam, mengingat pekerjaan Taeyeon yang sangat tidak mendukung urusan itu. Dan juga norma.
Setelah puas, Taeyeon membungkuk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu dengan lembut. Berpamitan untuk melanjutkan kesibukannya.</p>

<p>“Aku pergi dulu. <em>I love you</em>.”</p>

<hr/>

<p><a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:snsd" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">snsd</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:divastylist1" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">divastylist1</span></a> <a href="https://taengoori.writeas.com/tag:taeny" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">taeny</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://taengoori.writeas.com/diva-stylist</guid>
      <pubDate>Tue, 03 Aug 2021 01:29:35 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>