THE COFFEE GIRL
#seulrene #oneshot #seulreneoneshot
Baru satu bulan bekerja di perusahaan multinasional, Irene sudah terlihat seperti zombie berjalan. Jam tidurnya terpangkas sangat banyak. Terlebih karena jarak rumahnya yang jauh dari kantor sehingga dia harus berangkat lebih pagi dan pulang sangat larut. Maka jangan heran jika dia akan tertidur sebentar di subway atau membawa kopi saat dia keluar dari stasiun.
Seperti hari ini, dia turun dari subway dengan mata yang masih merah. Perempuan itu tertidur di subway, seperti biasa. Dan begitu kakinya melangkah, tujuan pertamanya adalah stand kopi yang berada di dekat tangga jalan keluar. Dia harus men-charge dirinya sebelum benar-benar bekerja hari ini.
Dia membalas sapaan seorang barista yang terlihat lebih muda darinya dengan senyuman seraya menyebutkan pesanannya. “Satu coffee latte seperti biasa.”
Hampir setiap hari Irene bertemu dengan barista itu. Mungkin tiga dari lima kali dalam seminggu. Dia sampai hafal dengan wajah barista itu. Terutama senyumnya ketika ia menyapa pembeli yang akan membuat matanya bersembunyi. Sangat ramah karena selalu menanyakan kabar Irene setiap kali ia mampir. Tapi yang paling Irene sukai adalah tulisannya di gelas kopi Irene. Tidak pernah ada tulisan yang hanya sekedar basa-basi.
“Silahkan pesanannya, Irene-ssi,” ujarnya sambil menyerahkan satu gelas pesanan Irene. “Selamat menikmati, semoga ada kabar baik hari ini.”
“Terima kasih! Kamu juga,” Irene mengambilnya dengan senyuman yang lebar sebelum berlalu keluar.
Mari lihat apa yang dia tulis hari ini.
Irene minggir sebentar setelah cukup jauh dari stand kopi itu. Hanya untuk melihat tulisan dari barista itu di gelasnya.
Lelah ya? Bertahan sebentar. Kamu tau pelangi tidak muncul dg tiba-tiba kan?
Irene sejenak terpekur memahami kalimat itu. Sebelum memutar tubuhnya ke arah barista itu yang sibuk melayani pelanggan. Memperhatikan barista itu sekali lagi dan mengingat figurnya dari samping sebelum berlalu.
Betulkan? Dia selalu punya mantra baru lagi untuk mengawali harinya.
Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, Irene turun dari subway dengan nyawa yang tak terlalu penuh. Bedanya hari ini adrenalinnya sangat tinggi, karena nanti dia harus presentasi di depan petinggi untuk pertama kalinya. Dia yang masih minim pengalaman, bahkan nyaris tidak bisa tidur karena dia takut.
“Satu iced americano 4 shots,” pesannya.
Dia menangkap ekspresi barista itu yang terkejut melihatnya. Alisnya terangkat sempurna saat menatapnya. Iya, baru kali ini dia tidak memesan coffee latte.
“Semua baik-baik saja?” lucunya barista itu bahkan juga bisa merasakan jika Irene sedang tidak baik-baik saja.
Irene menggeleng kecil. Dia mendesah kecil sebelum menceritakan kegelisahannya. Beruntung bagi Irene karena stand itu masih cukup sepi. Sehingga mereka bisa bercakap dengan santai.
Barista itu sudah seperti temannya sendiri. Bedanya mereka tidak berkenalan dengan formal, hanya sekedar tahu. Namun kenyamanan diantara keduanya justru jauh lebih baik dibandingkan kenyamanan yang Irene dapatkan dari teman kerja atau teman kuliahnya dulu.
Dengan saksama barista itu mendengarkan setiap keluh kesah dari Irene. Tidak satupun kata-kata Irene yang dia lewatkan. Semua balasan yang barista itu katakan pun tidak sekedar basa-basi, dia benar-benar mendengarkan dan menenangkan Irene.
“Jangan terlalu sering underestimate diri sendiri. Aku tahu kamu dipilih bukan tanpa alasan,” ucapnya meyakinkan Irene. “Dari 5 pegawai baru di divisimu dan kamu yang dipilih? Berarti kamu jauh lebih baik dong daripada mereka?”
Dia tertegun sekali lagi. Tidak ada yang mengatakan kalimat itu dari kemarin. Kecuali menakut-nakutinya untuk siap dan tampil sempurna.
Yang lebih membuatnya lebih tenang lagi adalah tatapan matanya yang teduh dan hangat saat mengatakannya. Serta senyuman yang tidak pernah hilang dari bibirnya yang mampu menyedot perhatian Irene.
“Iced americano 4 shots pesananmu, Irene-ssi,” dia menyerahkannya. “Good luck for you. Aku tunggu ceritamu besok.”
“Terima kasih, Seulgi-ssi. Semoga besok aku bisa bawa berita bagus. Bye. Have a nice day.”
Jelas yang dilakukan oleh Irene berikutnya setelah menjauh dari stand itu adalah melihat mantra yang tertulis di gelasnya.
Aku tahu kamu pasti bisa melewatinya. Fighting! :))
Ada yang sedikit berbeda dengan hari ini. Dia tidak tertidur di subway, jelas itu sebuah kemajuan. Semua itu tak lepas dari dirinya yang tidak sabar untuk menceritakan presentasi kemarin ke Seulgi, barista yang sering ditemuinya.
Dengan cepat dia bergegas menuju stand itu. Tinggal beberapa langkah saja, dia berhenti.
Karena yang berdiri di sana bukan barista yang ingin ditemuinya. Melainkan laki-laki yang sepertinya jauh lebih muda lagi dari dirinya dan Seulgi.
Tanpa sadar, dia mendesah kecewa. Sekalipun dia tetap ke sana untuk memesan coffee latte.
Seperti kebiasaannya, dia melihat sisi gelas itu. Hanya tulisan namanya dan ucapan have a good day yang basi. Tidak ada mantra untuk hari ini.
Pun hari berikutnya yang masih sama saja. Dia juga tidak bertemu dengan barista itu. Hingga total 5 dari 5 kali ia ke sana dalam dua minggu, dia tidak bertemu lagi dengan perempuan itu.
“Barista yang sebelumnya keluar ya?”
Dia memaksakan kalimat itu keluar dari mulutnya walaupun dia tahu itu sangat tidak pantas untuk didengarkan barista lain. Dia tidak bermaksud membandingkan. Hanya ingin menagih janji perempuan itu untuk mendengar ceritanya yang sengaja dia simpan berminggu-minggu.
“Ah... iya. Dia sudah tidak di sini,” jawab laki-laki itu, sama tak enaknya dengan Irene.
Kecanggungan pun menyeruak di antara mereka. Dan Irene gagal menyembunyikan kekecewaannya dari laki-laki itu. Yang membuat barista itu akhirnya menanyakan kepadanya, “ada apa ya? Mungkin saya bisa bantu sampaikan.”
“Oh. Enggak. Jangan. Bukan apa-apa, kok. Hanya... bertanya saja. Saya kira ada pergantian jadwal,” kilahnya.
Begitu dia menerima pesanannya, dia bergegas pergi. Merutuki kebodohannya yang menanyakan hal tidak penting itu. Juga kebodohannya yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Sudahlah. Mungkin cerita baik itu memang harusnya Irene simpan sendiri. Tidak perlu orang lain untuk mendengarkan.
Hari-hari berlalu dengan sangat buruk. Panjang dan melelahkan. Tidak ada mantra pagi hari yang bisa membuat Irene bertahan hingga pekerjaannya usai setiap hari. Sama seperti hari ini.
Irene menyandang tasnya dan berjalan gontai memasuki stasiun subway. Melewati stand itu dengan acuh. Sudah beberapa minggu setelah pertemuan terakhir mereka. Irene memang selalu ke sana setiap pagi, namun rasanya sama seperti kakinya yang otomatis melangkah ke stasiun ini. Tidak ada yang menarik.
Tidak ada lagi mantra untuk paginya yang kusut. Tidak ada lagi suara ramah barista itu yang menyapanya setiap kali dia mampir. Makin hambar rasanya.
Terlebih ketika dia masih memegang janji barista itu. Yang mengatakan akan mendengarkan ceritanya esok hari. Lantas kenyataannya? Perempuan itu pergi begitu saja. Sialan.
Irene yang menatap kosong rel di hadapannya lantas tersadar saat telinganya menangkap suara kereta memasuki stasiun. Itu keretanya yang membawanya pulang pergi setiap hari.
Dia menunggu gerombolan orang untuk keluar dari kereta sebelum berdesakan masuk. Jam pulang kerja tidak pernah ramah untuk siapapun seperti dirinya. Bahkan di kereta saja mereka harus berebut.
Bahkan Irene masih harus berjalan di antara orang-orang yang berlalu lalang sebelum membidik satu kursi kosong.
Sekian menit berselang, tubuh lelahnya itu akhirnya bisa duduk di salah satu kursi yang kosong di subway. Menyandarkan punggungnya ke dinding subway dan memejamkan matanya sebentar sampai kereta itu membawanya pulang.
Dia bahkan tidak menyadari jika orang silih berganti di sekitarnya. Lebih tepatnya tidak peduli. Sampai seseorang menyentuh pundaknya dan seketika Irene terbangun.
Dia menoleh ke sampingnya. Bersiap untuk menyembur siapapun itu. Sampai seseorang tersenyum sangat lebar sembari melihatnya.
Rasanya waktu seperti berhenti saat matanya mengenali senyuman itu.
“Hai. Sudah lama gak ketemu. Apa kabar?”
Bahkan nada suaranya masih sama seperti berminggu-minggu yang lalu. Masih menyedot seluruh kesadaran Irene.
Dari sekian banyak orang di kereta ini, dan dia yang ia temui sekarang? Menarik.
“Hai juga. Lama gak ketemu.”